International Women’s Day 2021
Hanuang.com – Lebih dari satu abad, tepatnya setiap tanggal 8 Maret merupakan momentum untuk memperingati Hari Perempuan Internasional yang pada tahun 2021 ini mengusung tema kampanye “Choose to Challenge”.
Tema tersebut dilansir dari laman International Women’s Day berarti bahwa kita harus berani untuk memilih, untuk menantang dan untuk menyerukan ketidaksetaraan yang kita temui dan alami.
Gender dapat diartikan sebagai suatu pandangan atau keyakinan yang dibentuk oleh masyarakat tentang bagaimana seharusnya seseorang perempuan atau laki-laki untuk berpikir dan bertingkah laku.
Gender juga dapat didefinisikan sebagai suatu pembedaan baik dalam peran, sifat, sikap, atribut hingga perilaku yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.
Secara umum wacana-wacana mengenai gender ini sudah banyak dibicarakan bahkan dibahas seperti dalam seminar-seminar, workshop atau wadah-wadah diskusi lainnya. Namun realita yang terjadi saat ini masih sangat memprihatinkan.
Hal ini dapat kita lihat dari data-data yang dapat dengan mudah kita akses, misalnya data terbaru yang direlease oleh laman Komnas Perempuan yaitu Catatan Tahunan (CATAHU) pada tanggal 5 Maret 2021 lalu bahwa kekerasan seksual, kekerasan siber, perkawinan anak hingga keterbatasan penanganan di tengah Pandemi Covid-19 ini mengalami lonjakan.
Dengan melihat realita yang ada menandakan bahwa paradigma mengenai gender ini masih belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Selama ini masih banyak dikalangan masyarakat yang beranggapan bahwa perempuan berada pada lapisan bawah (low-layer), tertindas, kelompok kelas kedua (subordinat) dan tidak berdaya yang hal tersebut dibuktikan dengan sejumlah kasus seperti TKW, PRT, buruh perempuan dan lain sebagainya.
Tidak hanya sebatas itu, mitos-mitos tentang hidup perempuan hanya di seputar sumur, dapur dan kasur atau bahwa tugas perempuan hanyalah pada seputar masak, macak dan manak, tampak telah sangat melekat dalam kehidupan dan budaya di masyarakat.
Minimnya pemahaman masyarakat mengenai kesetaraan gender ini menjadi salah satu faktor penyebab dari tingginya kekerasan fisik, kekerasan fsikis, kekerasan seksual, kekerasan siber atau sejumlah pelecehan lainnya yang dialami oleh kaum perempuan.
Namun, penting untuk dipahami bahwa perempuan Indonesia sejak zaman perjuangan kemerdekaan hingga saat ini telah berhasil membuktikan kepada publik bahwa keberadaan kaum perempuan layak untuk diperhitungkan baik dari segi kecerdasan hingga kepiawaiannya.
Sehingga sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa masyarakat sangat membutuhkan peran perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam bidang ekonomi, pendidikan, sosial, politik, hukum, dan masih banyak aspek-aspek kehidupan lainnya.
Permasalahan tersebut tentu menjadi PR bagi kita semua khususnya para generasi milenial yang dinilai sebagai modal utama dalam fenomena bonus demografi.
Generasi milenial sudah sepatutnya untuk membekali diri masing-masing akan pengetahuan mengenai kesetaraan gender yang bisa didapat dari berbagai program seperti sekolah gender, seminar-seminar, Forum Group Discussion (FGD) dan sejumlah program lainnya yang dapat menambah pengetahuan mengenai kesetaraan gender. Untuk kemudian memberikan edukasi terhadap masyarakat bahwa perempuan dan laki-laki sejatinya memiliki status yang setara, dan dapat berkolaborasi baik dalam kehidupan kelompok yang kecil maupun besar.
Kaum perempuan dan laki-laki adalah pasangan yang tiada bandingnya dalam saling melengkapi satu sama lain. Oleh karenanya, penting untuk kita semua pahami bahwa tanpa eksistensi dari salah satunya, maka eksistensi lainnya tidaklah terbayangkan.
Jadi, mengapa harus merusak keberadaan yang lainnya?.
Dan sebagai kaum perempuan sudah sepatutnya kita memelihara keberanian untuk bersuara dan menentang ketika mendapatkan perlakuan yang kurang baik.
Speak Up! Kita sama-sama memiliki hak dan kita sama-sama berharga. Yakin Usaha Sampai.
Penulis : Ranti Antika (Kabid PP HMI Komsospol Universitas Lampung)
Penerbit : Arya





