Connect with us

Lampung Utara

Sambangi Mapolsek Tanjung Raja, GML Lampura Pertanyakan Status Penadah Kayu Gelondongan

Published

on

Ketua DPD Ormas GML Lampung Utara, Rusdi Effendi, SH Bersama Anggota Saat Berada Di Mapolsek Tanjung Raja

Hanuang.com – Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Ormas Gema Masyarakat Lokal (GML) Lampung Utara (Lampura) datangi Mapolsek Tanjung Raja, Kabupaten setempat, Sabtu, (20/07/19).

Kedatangan ormas yang mengutamakan kearifan lokal tersebut yakni bertujuan untuk menanyakan terkait penetapan tersangka tentang pencurian kayu gelondongan yang saat ini ditangani oleh Mapolsek Tanjung Raja, Lampura.

“Kita menanyakan status para pelaku yang saat ini sedang ditangani oleh Polsek Tanjung Raja” ungkap Rusdi Effendi, SH, selaku Ketua DPD GML Lampura.

(Barang bukti kayu gelondongan hasil pencurian yang diamankan jajaran kepolisan)

“Diduga seorang penadah atau penampung kayu tersebut masih belum jelas statusnya, yakni hanya sebagai saksi, sedangkan pelaku lainnya sudah berstatus tersangka” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Kapolsek Tanjung Raja, IPTU Darson Elidi menjelaskan bahwa pihaknya masih melakukan tahap pemeriksaan terhadap saksi-saksi terkait pencurian kayu tersebut.

“Polisi itu menentukan dan memutuskan tersangka melalui kajian-kajian, salah satunya setelah gelar perkara, saat ini masih operasi Sikat, nanti akan kita gelar perkara ditingkat Mapolres langsung, nanti baru akan kita ambil kesimpulan bahwa dia statusnya tersangka atau tidak” ungkapnya.

(Truck Jenis Colt Diesel Yang Digunakan Pelaku Untuk Mengangkut Kayu Hasil Curian)

“Yakinlah saya tidak ada kepentingan apa-apa, dan percayalah dengan kami selaku Polisi, dan akan secepatnya kita gelar perkara” bebernya.

Rusdi Effendi, berharap pihak Kepolisian dapat benar-benar menerapkan hukum dalam bertugas demi terciptanya Indonesia yang Aman, Damai, dan Sejuk.

“Kita berharap polisi harus bekerja profesional, jangan tebang pilih, apabila nantinya bersalah segera tangkap dan naikkan statusnya jadi tersangka” tutupnya. (Arya)

 2,805 total views,  3 views today

Lampung Utara

Selain Bupati Lampura, Berikut Daftar Tersangka Yang Ditetapkan Oleh KPK RI

Published

on

By

Keterangan Gambar : Foto Diambil Dari Google

Hanuang.com – KPK RI akhirnya menetapkan status tersangka kepada Bupati Lampung Utara, Agung Ilmu Mangkunegara sebagai tersangka kasus suap, Senin, (07/10/19).

Agung diduga menerima suap dari proyek yang digelar oleh Dinas PUPR dan Dinas Perdagangan Kabupaten setempat.

Selain Bupati Agung, KPK juga menetapkan status tersangka kepada lima orang lainnya. Berikut daftar nama lengkap beserta status dan perannya :

  1. Raden Syahril, selaku orang kepercayaan Bupati Agung yang diduga sebagai penerima suap.
  2. Syahbuddin, selaku Kadis PUPR Lampura yang diduga sebagai penerima suap.
  3. Wan Hendri, selaku Kadis Perdagangan yang diduga sebagai penerima suap.
  4. Chandra Safari, selaku pihak swasta yang diduga sebagai pemberi suap.
  5. Hendra Wijaya, selaku pihak swasta yang diduga sebagai pemberi suap.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, keenam tersangka dijerat Undang – Undang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dengan pasal yang berbeda-beda. (Arya)

 3,825 total views,  1 views today

Continue Reading

Lampung Utara

(Video) Lampung Utara Heboh, KPK Dikabarkan OTT Pejabat

Published

on

By

Hanuang.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menggelar Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Wilayah Lampung, Minggu malam, (06/10/19).

Kali ini KPK mendatangi Rumah Dinas (Rumdin) Bupati Lampung Utara. Dan berdasarkan data yang berhasil dihimpun, KPK telah mengamankan salah seorang Kepala Dinas setempat.

“Itu yang sudah dibawa KPK Kadis PUPR nya,” ungkap salah seorang yang enggan disebutkan namanya.

“Kalau Bupati nya masih diperiksa, itu mobilnya mah sudah disegel oleh KPK” tambahnya.

Sedangkan menurut salah seorang penjagaan menyatakan bahwa dirinya tidak tahu apa-apa terkait ramainya wartawan dan warga di Rumdin setempat.

“Mohon maaf, saya tidak tau apa-apa” tandasnya.

Hal tersebut dipertegas oleh pihak lembaga anti rasuah (KPK_red) Febri Diansyah selaku Juru Bicara yang belum dapat memberikan klarifikasi. Menurutnya, setiap kegiatan KPK di seluruh Indonesia bersifat rahasia.

“Ya biasanya kalau ada kegiatan OTT saya dikabari,” tandasnya. (Arya)

 5,908 total views,  1 views today

Continue Reading

Lampung Utara

Tak Bisa Makan Enak, Kakak Dan Adik Di Lampung Lahap Daging Kucing

Published

on

By

Hanuang.com – Miris, dua kakak adik, Wagimin (35) dan adiknya Suyatno (30), hanya karena ingin makan daging, warga Jalan Jeruk Kelurahan Kelapa Tujuh, Kecamatan Kotabumi Selatan, Lampung Utara itu sampai nekat memakan daging kucing mati.

Mereka makan daging kucing karena tidak mampu membeli daging hewan layak konsumsi, mereka hidup miskin dan memprihatinkan. Ironisnya, keberadaan mereka seperti lepas pantauan dari pemerintah setempat

Mengetahui hal ini, Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Lampung Utara Ardiansyah dan Komunitas Jum’at Berbagi (KBJ) menyambangi dan memberikan bantuan bahan pangan dan dari kunjungan KBJ, kedua kakak adik itu memiliki keterbelakangan mental yang sewaktu-waktu menunjukkan gejala.

Menurut penuturan Ketua SMSI, rumah yang saat ini ditempati Wagimin dan Suyatno merupakan warisan milik orang tuanya.

“Rumah itu tanpa pintu dan jendela, hanya dibatasi potongan seng bekas untuk menutupi, tidak ada satu pun perabotan rumah tangga. Suatu hari, kami mendengar kabar, kedua kakak beradik ini memakan kucing mati hanya karena ingin makan daging,” tutur Ardiansyah.

Masih kata Ardiansyah, “melihat dari keterbatasan yang, bisa jadi, usia yang disebutkan Wagimin saat ditanya awak media pun tidak tepat, kedua orangtuanya sudah lama tiada,” ungkapnya.

Koordinator KJB Lampura, Firmansyah, menyampaikan, jika keterbelakangan memtal yang mereka idap selama ini hanya sewaktu-waktu saja kambuh. Dan ia memastikan, keduanya bukan sakit jiwa.

“Mereka bukan orang gila, saya kira hanya depresi ringan yang sewaktu-waktu kambuh. Itupun tidak mengganggu warga sekitar. Saya yakin, depresi yang dialami keduanya disebabkan faktor ekonomi yang tidak mampu mereka atasi karena berbagai keterbatasan yang mereka miliki,” ujar Firmansyah, Jum’at, (20/9/2019).

Saat dikunjungi, Wagimin dan Suyatno sedang memasak air dengan kayu bakar dan sebuah kaleng bekas.

“Ini air buat saya minum, Pak,” sambut Wagimin sambil mempersilakan tim masuk ke dalam rumahnya.

Komunikasi sangat baik dan lancar, hal ini tentu menampik anggapan jika Wagimin adalah orang gila dan tim langsung menyerahkan berbagai bantuan sembako yang dihimpun dari para dermawan.

Dalam wawancara, Wagimin mengatakan, ia bersama adiknya, beberapa waktu lalu, mengakui memakan kucing mati.

“Iya, Pak. Saya dan adik saya memang makan kucing mati. Waktu itu, yah, karena kepingin aja makan daging. Saya lihat kucing mati di pinggir jalan. Saya bawa pulang dan saya bakar untuk saya makan dengan adik saya,” tutur Wagimin.

Menurutnya, mereka memakan kucing mati itu bukan karena sudah terbiasa, namun karena saat itu tidak ada bahan makanan yang hendak mereka makan.

“Ya, saya makan kucing itu tidak setiap hari kok, Pak. Hanya kebetulan saja ada kucing mati, makanya saya bawa pulang untuk dimakan,” aku Wagimin.

Saat kedatangan tim, adiknya sedang pergi main. Dalam kesehariannya, Wagimin bekerja sebagai pemulung barang bekas untuk dijual. Tampak tumpukan kardus dan berbagai botol plastik bekas di samping rumah.

“Rumah kami ini peninggalan orang tua, Pak. Yah, beginilah. Kalau untuk tidur, yah, kami pakai kardus-kardus bekas. Kadang-kadang ada tetangga yang kasih kami makan, Pak,” ujar Wagimin. (Arya)

 3,695 total views,  1 views today

Continue Reading

Trending Topic