Hanuang.com – Upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah membesar. Edukasi, kewaspadaan, dan kepedulian masyarakat menjadi benteng pertama untuk menjaga lingkungan dari ancaman kebakaran.
Semangat itulah yang dibawa Tim Penyuluhan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) saat melaksanakan peninjauan lokasi di Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Senin (31/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari langkah preventif untuk memberikan pemahaman sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya dan dampak yang dapat ditimbulkan akibat pembakaran hutan maupun lahan.
Rombongan Tim Penyuluh Karhutla dipimpin Brigjen TNI Bangkit Rahmat Tri Widodo, M.Si.(Han), bersama sejumlah pejabat dan personel lainnya.
Dalam pelaksanaan kegiatan, rombongan didampingi Danramil 421-04/Kalianda Kapten Inf Tatang S, Pasi Ops Kodim 0421/LS Kapten Inf Edi Alpian, Camat Rajabasa Firdaus, S.E., M.M., Kepala Desa Way Muli Suryana, serta Babinsa Koramil 421-04/Kalianda.
Sekitar pukul 09.30 WIB, rombongan tiba di Kantor Desa Way Muli dan disambut oleh Camat Rajabasa bersama Kepala Desa Way Muli.
Setelah melakukan rangkaian kegiatan di kantor desa, tim kemudian melanjutkan agenda lapangan. Tepat pukul 11.00 WIB, rombongan melaksanakan peninjauan di sektor Gunung Rajabasa.
Peninjauan langsung ke kawasan tersebut menjadi bagian penting dari kegiatan. Selain melihat kondisi wilayah secara nyata, kehadiran tim di lapangan juga menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pentingnya menjaga kawasan hutan dan lingkungan dari ancaman api.
Karhutla bukan sekadar persoalan api yang membakar vegetasi. Ketika kebakaran terjadi, dampaknya dapat menjalar jauh melampaui lokasi awal kejadian.
Pembakaran hutan dan lahan dapat menyebabkan kerusakan ekosistem, pencemaran udara, mengganggu kesehatan masyarakat, hingga berpotensi berkembang menjadi bencana yang lebih luas apabila tidak segera dikendalikan.
Karena itu, pencegahan menjadi langkah yang jauh lebih penting dibandingkan sekadar penanganan ketika kebakaran telah terjadi.
Melalui penyuluhan tersebut, masyarakat didorong untuk tidak melakukan pembakaran secara sembarangan dan ikut berperan aktif menjaga wilayah di sekitarnya.
Terlebih, kawasan Gunung Rajabasa memiliki nilai penting bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Menjaga kawasan tersebut dari ancaman kebakaran berarti menjaga sumber daya alam sekaligus melindungi masyarakat dari berbagai dampak yang mungkin ditimbulkan.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa penanganan Karhutla membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. TNI, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, Babinsa, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi dalam membangun kewaspadaan sejak dini.
Kehadiran Tim Penyuluh Karhutla di Way Muli diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Pesan yang disampaikan diharapkan terus diteruskan dari satu warga kepada warga lainnya sehingga kesadaran menjaga lingkungan menjadi kebiasaan bersama.
Masyarakat menjadi mata dan telinga pertama dalam mendeteksi potensi kebakaran. Dengan kepedulian dan respons cepat, potensi munculnya titik api dapat ditekan sebelum berkembang menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan.
Semangat tersebut menjadi penting di tengah kondisi musim kemarau yang meningkatkan potensi terjadinya kebakaran di sejumlah wilayah.
Pada akhirnya, menjaga hutan dan lahan bukan hanya tugas aparat atau pemerintah. Setiap warga memiliki peran dalam memastikan api tidak menjadi awal dari kerusakan yang lebih besar.
Dari Way Muli, pesan itu kembali ditegaskan: mencegah Karhutla dimulai dari kesadaran untuk tidak menyalakan api sembarangan dan keberanian untuk bersama-sama menjaga lingkungan.
Rangkaian peninjauan Tim Penyuluh Karhutla di Desa Way Muli dan sektor Gunung Rajabasa selesai sekitar pukul 13.00 WIB. Seluruh kegiatan berlangsung dalam keadaan aman dan lancar. (Arya)