Hanuang.com – Abu vulkanik yang beterbangan di udara bukan hanya mengganggu pernapasan. Partikel halus tersebut juga dapat mengancam kesehatan mata, terutama jika terjadi paparan langsung dan mata kemudian digosok atau dikucek.
Iritasi hingga luka pada permukaan kornea dapat terjadi akibat paparan abu vulkanik. Dalam kondisi tertentu, kebiasaan mengucek mata terlalu keras juga dapat menyebabkan pembuluh darah kecil di bagian putih mata pecah.
Hal itu dialami Khatrin Suci Saraswati (30), perempuan asal Tanggamus, Lampung. Dalam sebuah unggahan di TikTok, Khatrin membagikan kondisi matanya yang memerah pekat setelah mengalami keluhan seperti kelilipan.
“Awalnya, dua hari lalu, saya kelilipan lalu dikucek. Paginya, mata sudah seperti di video,” ujar Khatrin, dikutip dari Detik, Minggu (13/9/2026).
Dalam video yang diunggahnya, hampir seluruh bagian putih pada salah satu matanya terlihat berwarna merah pekat.
Khatrin kemudian memeriksakan kondisi tersebut ke dokter. Berdasarkan hasil pemeriksaan, pembuluh darah kecil pada matanya mengalami pecah yang diduga berkaitan dengan paparan abu vulkanik serta kebiasaan mengucek mata.
Paparan abu vulkanik pada mata tidak boleh dianggap sepele. Partikel abu dapat menempel pada permukaan mata dan menyebabkan iritasi. Jika digosok, partikel tersebut berpotensi menggores permukaan kornea sehingga menyebabkan abrasi atau luka.
Kondisi tersebut dapat menimbulkan rasa perih, mata merah, berair, sensitif terhadap cahaya hingga gangguan penglihatan. Luka pada kornea juga dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi.
Karena itu, ketika mata terasa kelilipan setelah terpapar abu vulkanik, jangan menguceknya. Langkah yang lebih aman adalah membilas mata menggunakan air bersih yang mengalir untuk membantu mengeluarkan partikel yang masuk ke mata.
Jika setelah dibilas mata tetap merah, terasa sakit, sensitif terhadap cahaya atau penglihatan terganggu, masyarakat dianjurkan segera mendapatkan pemeriksaan medis. Khatrin sendiri mendapat arahan untuk kembali menjalani pemeriksaan apabila kondisi matanya tidak membaik dalam beberapa hari.
“Empat hari ke depan, jika [mata] tidak membaik, harus pemeriksaan lebih lanjut,” tuturnya.
Dalam perkembangan berikutnya, warna merah pada mata Khatrin mulai sedikit memudar. Namun, area yang terdampak justru terlihat semakin melebar.
“Hari kedua sudah agak pudar merahnya, tapi masih menyebar,” katanya.
Khatrin mengaku tidak merasakan sakit pada mata tersebut. Namun, rasa perih muncul ketika matanya diberikan obat tetes.
Pengalaman tersebut membuatnya mengingatkan masyarakat agar tidak mengulangi kebiasaan mengucek mata ketika kelilipan, terlebih saat udara sedang dipenuhi abu vulkanik.
Mengucek mata terlalu keras memang dapat meningkatkan tekanan pada pembuluh darah kecil di sekitar mata. Salah satu kondisi yang dapat terjadi adalah perdarahan subkonjungtiva.
Mengutip American Academy of Ophthalmology (AAO), konjungtiva selaput bening yang melapisi bagian putih mata memiliki banyak pembuluh darah kecil. Ketika pembuluh tersebut pecah, darah dapat terkumpul di bawah konjungtiva dan tampak sebagai bercak merah terang pada bagian putih mata.
Meski tampilannya dapat membuat seseorang panik, perdarahan subkonjungtiva umumnya tidak berbahaya dan sering kali dapat sembuh dengan sendirinya.
Namun, mata yang terpapar abu vulkanik tetap perlu mendapat perhatian. Terlebih apabila kemerahan disertai nyeri, gangguan penglihatan, rasa mengganjal yang menetap, atau gejala yang semakin berat.
Pengalaman Khatrin menjadi pengingat sederhana di tengah kondisi udara yang dipenuhi abu vulkanik: mata juga perlu dilindungi.
Saat berada di luar ruangan, masyarakat dapat menggunakan kacamata pelindung untuk mengurangi kemungkinan partikel abu masuk ke mata. Hindari menyentuh atau mengucek mata dengan tangan yang mungkin telah terpapar debu.
Jika mata terlanjur kemasukan abu, jangan digosok. Segera bilas dengan air bersih yang mengalir.
Sebab, satu kebiasaan sederhana tidak mengucek mata dapat membantu mencegah iritasi berkembang menjadi masalah yang lebih serius. Jaga mata, terutama ketika abu vulkanik masih beterbangan.