Hanuang.com – Hujan deras yang turun tanpa jeda sejak Selasa (30/12/2025) sore hingga malam hari mengubah sejumlah ruas jalan dan permukiman di Kabupaten Lampung Selatan menjadi lautan air. Curah hujan tinggi yang mengguyur hampir merata memicu banjir di beberapa titik strategis, termasuk Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) yang menjadi urat nadi transportasi antardaerah.
Di Desa Tarahan, Kecamatan Katibung, Jalinsum tampak tergenang air berwarna kecokelatan. Aliran air yang cukup deras memaksa kendaraan dari arah Tarahan menuju Bandar Lampung maupun sebaliknya melambat drastis. Dari rekaman video amatir yang beredar, ketinggian air diperkirakan mencapai sekitar 50 sentimeter dan menutupi hampir seluruh badan jalan.
Tak hanya di Katibung, banjir juga merendam Jalinsum di Desa Palembapang, Kecamatan Kalianda. Hingga Selasa malam, genangan air masih terlihat menutup sebagian ruas jalan, menimbulkan kekhawatiran pengguna jalan yang melintas di tengah hujan yang belum juga mereda.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lampung Selatan, Nurma Suri, mengungkapkan bahwa sejumlah laporan genangan air telah diterima dari berbagai wilayah.
“Dari 17 kecamatan, laporan sementara yang masuk berada di Desa Palembapang, Kecamatan Kalianda. Tercatat tiga rumah terdampak per pukul 19.30 WIB. Kepala Pelaksana BPBD Lampung Selatan, Pak Maturidi, sudah berada langsung di lokasi,” ujar Nurma Suri.
Banjir juga terjadi di Desa Kecapi, Kecamatan Kalianda. Air meluap ke permukiman warga akibat drainase jalan yang sempit serta penumpukan material berupa sampah, pasir, dan batu. Kondisi jalan yang lebih tinggi dibandingkan rumah warga menyebabkan air dengan cepat menggenangi area pemukiman.
“Air meluap ke rumah warga karena posisi permukiman lebih rendah. Hingga saat ini kondisi masih aman dan terkendali. Kami masih menunggu laporan lanjutan dari mitra relawan Desa Tangguh Bencana (Destana) di Desa Rangai Tri Tunggal dan Tarahan,” lanjutnya.
Cuaca ekstrem disebut menjadi faktor utama kejadian tersebut. Menurut Nurma Suri, hujan dengan intensitas tinggi terjadi sejak pukul 17.00 WIB hingga pukul 19.47 WIB dan masih berpotensi berlanjut.
Genangan air juga dilaporkan muncul di Desa Hajimena, Kecamatan Natar. Penyempitan gorong-gorong dan saluran drainase menyebabkan air yang seharusnya mengalir justru meluber ke badan jalan, mengganggu aktivitas masyarakat.
“Mudah-mudahan situasi tetap aman dan terkendali hingga pukul 19.50 WIB. Saat ini kami masih menunggu laporan sementara dari rekan-rekan relawan Destana di lapangan,” tandas Nurma Suri.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem, sekaligus perlunya perbaikan sistem drainase dan pengelolaan lingkungan. Di tengah hujan yang belum sepenuhnya reda, aparat dan relawan terus siaga, sementara warga diimbau tetap waspada terhadap potensi banjir susulan. (Jasmin)