Komsumsi Berita dan Penyebaran luas berita yang ada di situs ini, merupakan tanggung jawab yang menyebarkan dan mengunggah ulang di media sosial lainnya Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Hanuang.comHanuang.comHanuang.com
  • Home
  • Berita Sumatera
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Way Kanan
  • Hukum
  • Nasional
  • Olahraga
  • Pariwisata
  • Politik
  • Teknologi
Reading: Aktivitas Anak Krakatau Mereda, Sekolah di Lampung Kembali Tatap Muka Mulai Besok
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Hanuang.comHanuang.com
Font ResizerAa
  • Home
  • Berita Sumatera
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Way Kanan
  • Hukum
  • Nasional
  • Olahraga
  • Pariwisata
  • Politik
  • Teknologi
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2026 Hanuang.com. All Rights Reserved.
Bandar LampungBeritaBerita SumateraLampung BaratLampung SelatanLampung TengahLampung TimurLampung UtaraMesujiMetroPeristiwaPesawaranPesisir BaratPringsewuTanggamusTulang BawangTulang Bawang BaratWay Kanan

Aktivitas Anak Krakatau Mereda, Sekolah di Lampung Kembali Tatap Muka Mulai Besok

redaksi
Last updated: 8 September 2026 18:02
redaksi
1 bulan ago
Share
SHARE

Hanuang.com – Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang mulai menunjukkan kecenderungan membaik membawa angin segar bagi dunia pendidikan di Provinsi Lampung.

Setelah dua hari kegiatan belajar mengajar dialihkan secara jarak jauh akibat paparan abu vulkanik, Pemerintah Provinsi Lampung memutuskan mengembalikan pembelajaran tatap muka di sekolah mulai Rabu (9/9/2026).

Keputusan tersebut diambil setelah pemerintah mencermati perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, kondisi kualitas udara, serta hasil pemantauan di sejumlah wilayah terdampak.

Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, mengatakan durasi erupsi yang semakin singkat serta membaiknya kualitas udara menjadi sejumlah pertimbangan utama pemerintah dalam mengambil keputusan tersebut.

“Karena adanya perbaikan kualitas udara, kemudian erupsi dengan durasi yang semakin pendek dan lain sebagainya, maka kami memutuskan besok untuk kembali melakukan pembelajaran di sekolah,” ujar Jihan dalam konferensi pers di Pusdalops BPBD Provinsi Lampung, Selasa (8/9/2026).

Meski sekolah kembali dibuka, pemerintah tidak serta-merta menganggap kondisi telah sepenuhnya normal. Satuan pendidikan tetap diminta menerapkan protokol kesehatan, menjaga kebersihan lingkungan sekolah, serta mengurangi aktivitas siswa maupun tenaga pendidik di luar ruangan.

Berdasarkan hasil pemantauan, Gunung Anak Krakatau masih mengalami aktivitas erupsi pada Selasa pagi hingga siang.

Tercatat empat kali erupsi terjadi sekitar pukul 05.00 WIB, 05.34 WIB, 07.49 WIB, dan 11.34 WIB. Namun, masing-masing erupsi berlangsung kurang dari 20 detik.

Aktivitas tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum sekitar 50 milimeter.

Arah angin yang bergerak menuju barat laut dan utara dengan kecepatan rendah turut memengaruhi pola penyebaran abu. Kendati demikian, paparan abu vulkanik pada Selasa disebut mengalami penurunan secara signifikan dibandingkan sebelumnya.

Kondisi inilah yang menjadi salah satu dasar pemerintah mulai melakukan pemulihan aktivitas masyarakat, termasuk mengembalikan kegiatan belajar mengajar ke sekolah.

Dari aspek kualitas udara, hasil pemantauan di Bandar Lampung dan sekitarnya menunjukkan parameter PM10 dan PM2.5 berada dalam kategori sedang.

Sementara itu, konsentrasi sulfur dioksida atau SO2 di sejumlah wilayah Bandar Lampung masih berada pada kisaran 210 hingga 223 mikrogram per meter kubik.

Di Lampung Selatan, konsentrasi SO2 tercatat jauh lebih rendah, yakni sekitar 39,6 mikrogram per meter kubik.

Meski demikian, pemerintah tetap meminta masyarakat waspada, terutama warga yang tinggal di wilayah pesisir dan daerah yang berpotensi terdampak sebaran abu vulkanik.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Lampung Thomas Amirico mengatakan selama pembelajaran dialihkan secara daring, sekolah tidak hanya menjalankan kegiatan belajar dari rumah.

Sekolah juga memanfaatkan waktu tersebut untuk melakukan pembersihan lingkungan dan ruang kelas dari sisa paparan abu vulkanik.

Pembersihan dilakukan melalui koordinasi kepala sekolah, guru, petugas kebersihan, serta BPBD setempat.

Enam wilayah menjadi fokus penanganan, yakni Bandar Lampung, Pringsewu, Pesawaran, Tanggamus, Lampung Selatan, dan Pesisir Barat.

Pemprov Lampung memastikan lingkungan sekolah serta ruang kelas telah dibersihkan sebelum digunakan kembali untuk kegiatan belajar mengajar secara langsung.

Dengan demikian, mulai Rabu, siswa jenjang SD, SMP, hingga SMA yang sebelumnya terdampak abu vulkanik kembali mengikuti pembelajaran di sekolah.

Di tengah membaiknya kondisi erupsi, pemerintah masih mencatat adanya peningkatan masyarakat yang datang ke fasilitas kesehatan dengan keluhan gangguan pernapasan.

Data Dinas Kesehatan Lampung hingga Selasa mencatat 2.416 kasus ISPA yang terhimpun.

Selain itu terdapat 23 kasus pneumonia, 68 influenza, 67 asma, 79 PPOK, 23 heat stroke, serta 66 kasus penyakit kulit dan keluhan lainnya.

Jihan memastikan kondisi kesehatan masyarakat masih dalam kendali. Ketersediaan logistik seperti masker dan alat pelindung diri di fasilitas kesehatan juga disebut masih mencukupi.

Pemprov Lampung telah membentuk tim krisis kesehatan serta menyiapkan mekanisme distribusi obat-obatan dan masker apabila fasilitas kesehatan, khususnya di wilayah pesisir, membutuhkan tambahan logistik.

Kawasan pesisir Lampung Selatan yang memiliki kedekatan geografis dengan Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus.

Pemulihan aktivitas juga terlihat di sektor transportasi.

Bandara Radin Inten II berangsur kembali normal setelah sebelumnya dilakukan pembersihan runway, taxiway, dan apron menggunakan kendaraan ARF serta water blasting.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Lampung Bambang Sumbogo mengatakan pelayanan pelayaran di Selat Sunda tetap berjalan normal tanpa penundaan.

Sementara Bandara Radin Inten II kembali beroperasi sekitar pukul 10.00 WIB setelah hasil pemeriksaan paparan abu vulkanik dinyatakan negatif.

Pada hari yang sama, diperkirakan terdapat sekitar 10 penerbangan yang melakukan aktivitas take off dan landing.

Kondisi tersebut menjadi indikator lain bahwa dampak abu vulkanik terhadap aktivitas masyarakat mulai berkurang, meski pemantauan tetap dilakukan.

Pemerintah menegaskan membaiknya kondisi bukan berarti masyarakat boleh mengabaikan potensi bahaya Gunung Anak Krakatau.

Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.

Selain itu, warga dianjurkan menggunakan masker ketika berada di luar ruangan, membatasi aktivitas fisik yang tidak mendesak, serta menutup pintu, jendela, dan ventilasi rumah ketika terjadi paparan abu vulkanik.

Masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan juga diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan.

Pemprov Lampung melalui Pusdalops BPBD terus melakukan pemantauan dan diseminasi informasi setiap enam jam. BPBD kabupaten dan kota juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan serta memperkuat koordinasi lintas sektor.

Jihan turut mengingatkan masyarakat agar tidak panik, termasuk melakukan panic buying dengan membeli masker secara berlebihan.

Di sisi lain, para penjual masker dan alat kesehatan diminta tidak memanfaatkan situasi dengan menaikkan harga secara tidak wajar.

Kembalinya pembelajaran tatap muka, beroperasinya kembali penerbangan, serta tetap normalnya pelayanan pelayaran menjadi tanda bahwa aktivitas masyarakat Lampung mulai bergerak menuju kondisi normal.

Namun, pemerintah memilih langkah bertahap dengan tetap mengedepankan keselamatan.

Sekolah kembali dibuka, tetapi protokol kesehatan tetap diterapkan. Transportasi kembali berjalan, tetapi pemantauan paparan abu tetap dilakukan. Layanan kesehatan juga diperkuat untuk mengantisipasi dampak terhadap masyarakat.

Gunung Anak Krakatau memang menunjukkan kecenderungan aktivitas yang membaik, tetapi aktivitas vulkanik tetap dapat berubah sewaktu-waktu.

Karena itu, Pemprov Lampung memastikan pemantauan akan terus dilakukan dan kebijakan penanganan akan disesuaikan dengan perkembangan terbaru di lapangan.

Normalisasi aktivitas bukan berarti kewaspadaan dihentikan. Di tengah erupsi yang mulai mereda, keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama. (Arya)

TAGGED:Bandar Lampung
Share This Article
Facebook Email Print
Byredaksi
Farihan, S.H
Previous Article Niat Cari Makan Berujung Maut, Pria 28 Tahun Tewas Tersambar Kereta di Bumi Manti
Next Article Gara-gara Pisang, Nyawa Melayang: Pria 40 Tahun Tewas Dikeroyok Warga
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bersama Kartini Perindo, Aribun Bagikan Sembako & APD Di Dua Kecamatan
35 Desa di Bumi Khagom Mufakat Ikuti Pembinaan Desa Wisata
Rasakan Derita Korban Banjir, Kapolres Lamsel Salurkan Bantuan Sembako Di Merak Batin
Babinsa Gotong Royong Bersama Warga Buka Jalan Setapak Menuju Ke Kebun
Provinsi Jambi Apel Gelar Pasukan Ops Disiplin Protokol Kesehatan
  • Beranda
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Term & Conditions

Find Us on Socials

© www.hanuang.com. All Rights Reserved.
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?