Hanuang.com – Sinar matahari Rabu siang itu menyelinap lembut melalui jendela kaca Aula Rajabasa, Sekretariat Daerah Kabupaten Lampung Selatan.
Di ruangan yang dipenuhi ratusan undangan, suasana haru dan penuh semangat menyelimuti saat Sekretaris Daerah (Sekda) Lampung Selatan, Supriyanto, melangkah ke podium untuk mengukuhkan Zita Anjani, Ketua TP PKK Lampung Selatan, sebagai Bunda Forum Anak Daerah (FAD) dan Duta Besar Anak Kabupaten Lampung Selatan.
Tema kegiatan, “Anak Indonesia, Kita Bersaudara,” bukan sekadar slogan. Ia seperti napas yang menghidupkan semangat seluruh tamu yang hadir: Staf Ahli Bupati, para Asisten Sekda, Plt. Inspektur Kabupaten, para Kepala Dinas, Camat, hingga para tokoh perempuan dan pendidik. Semua bersatu untuk satu tujuan melindungi masa depan anak-anak Lampung Selatan.
Lebih dari Sekadar Seremoni

Bagi sebagian orang, pengukuhan jabatan mungkin hanyalah prosesi formal. Namun bagi Supriyanto, momen ini adalah awal perjuangan besar.
“Hari ini bukan hanya mengukuhkan seorang Ibu sebagai Bunda Forum Anak Daerah dan memilih Duta Anak. Lebih dari itu, kita sedang menyalakan sebuah obor. Obor yang menerangi jalan kita menuju satu tujuan besar: Lampung Selatan yang terbebas dari stunting,” tegasnya dalam sambutan penuh makna.
Obor yang dimaksud bukan api biasa. Ia adalah simbol semangat kolektif: semangat membangun manusia sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Semangat untuk memastikan setiap anak Lampung Selatan tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya saing.
Supriyanto tidak hanya berbicara dalam retorika. Ia menunjukkan angka konkret:
- 2019: 30,3%
- 2021: 16,3%
- 2022: 9,9%
- 2023: 10,3%
- 2024: 10,4%
Angka-angka itu menunjukkan kerja keras daerah dalam menekan stunting, meski peningkatan di dua tahun terakhir menjadi alarm serius. “Stunting bukan sekadar gagal tumbuh,” ujarnya pelan tapi tegas, “ia ancaman bagi masa depan.”
Bunda Anak, Pelindung Generasi

Di tengah ruangan, Zita Anjani menerima pengukuhan itu dengan senyum lembut. Ia bukan hanya istri seorang pemimpin daerah, melainkan sosok perempuan yang dipercaya menjadi teladan dan pelindung bagi generasi muda.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dr. Nessi Yunita, menjelaskan peran penting Bunda Forum Anak Daerah.
“Ini bentuk komitmen pemerintah daerah dalam pemenuhan hak anak dan perlindungan mereka. Dengan adanya Bunda FAD, kita ingin membangun sinergi lintas sektor demi mewujudkan Kabupaten Layak Anak,” tutur Nessi.
Landasan hukum kuat menopang langkah ini: Undang-Undang Perlindungan Anak, Pemerintahan Daerah, dan Permen PPPA Nomor 3 Tahun 2025. Namun lebih dari itu, ada nilai kemanusiaan yang jauh lebih dalam: memberi ruang tumbuh bagi suara anak-anak.
Anak Bukan Objek, Tapi Subjek Perubahan

Forum Anak Daerah bukan sekadar wadah, melainkan ruang di mana anak-anak bisa belajar bersuara, berpartisipasi, dan menjadi bagian dari perubahan. Sebagai Bunda FAD, Zita Anjani diharapkan menjadi jembatan antara anak-anak dan pengambil kebijakan.
Ia bukan hanya pelindung, tapi juga pendengar, penggerak, dan penyemangat.
“Anak-anak adalah benih masa depan. Mereka bukan hanya perlu kita lindungi, tapi juga kita beri ruang untuk tumbuh,” ujarnya dalam pernyataan singkat usai pengukuhan.
Sinergi Melawan Stunting

Tak sekadar seremoni, pengukuhan ini juga disertai aksi nyata. Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Lampung Selatan menggelar Bhakti Sosial bagi puluhan anak stunting. Sebuah langkah kecil, tapi bermakna besar menunjukkan bahwa perubahan dimulai dari kepedulian bersama.
Supriyanto berharap kehadiran Bunda Forum Anak Daerah dan Duta Anak akan menjadi motor penggerak percepatan penurunan stunting hingga mencapai target 5% di 2025.
Obor yang Tak Boleh Padam

Lampung Selatan kini memiliki sosok baru di garda depan perjuangan anak: Zita Anjani.
Ia bukan hanya dikukuhkan sebagai simbol, tapi sebagai cahaya penggerak yang menyatukan pemerintah, masyarakat, dan anak-anak.
Obor yang dinyalakan hari itu bukan untuk sesaat. Ia harus terus menyala menerangi jalan menuju masa depan Lampung Selatan yang ramah anak, sehat, dan berdaya saing.
“Anak bukan beban pembangunan, tetapi investasi masa depan,” kata Supriyanto menutup sambutan. (Arya)