Komsumsi Berita dan Penyebaran luas berita yang ada di situs ini, merupakan tanggung jawab yang menyebarkan dan mengunggah ulang di media sosial lainnya Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Hanuang.comHanuang.comHanuang.com
  • Home
  • Berita Sumatera
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Way Kanan
  • Hukum
  • Nasional
  • Olahraga
  • Pariwisata
  • Politik
  • Teknologi
Reading: Tak Bisa Makan Enak, Kakak Dan Adik Di Lampung Lahap Daging Kucing
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Hanuang.comHanuang.com
Font ResizerAa
  • Home
  • Berita Sumatera
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Way Kanan
  • Hukum
  • Nasional
  • Olahraga
  • Pariwisata
  • Politik
  • Teknologi
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2026 Hanuang.com. All Rights Reserved.
Lampung Utara

Tak Bisa Makan Enak, Kakak Dan Adik Di Lampung Lahap Daging Kucing

redaksi
Last updated: 21 September 2019 21:13
redaksi
7 tahun ago
Share
SHARE

Hanuang.com – Miris, dua kakak adik, Wagimin (35) dan adiknya Suyatno (30), hanya karena ingin makan daging, warga Jalan Jeruk Kelurahan Kelapa Tujuh, Kecamatan Kotabumi Selatan, Lampung Utara itu sampai nekat memakan daging kucing mati.

Mereka makan daging kucing karena tidak mampu membeli daging hewan layak konsumsi, mereka hidup miskin dan memprihatinkan. Ironisnya, keberadaan mereka seperti lepas pantauan dari pemerintah setempat

Mengetahui hal ini, Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Lampung Utara Ardiansyah dan Komunitas Jum’at Berbagi (KBJ) menyambangi dan memberikan bantuan bahan pangan dan dari kunjungan KBJ, kedua kakak adik itu memiliki keterbelakangan mental yang sewaktu-waktu menunjukkan gejala.

Menurut penuturan Ketua SMSI, rumah yang saat ini ditempati Wagimin dan Suyatno merupakan warisan milik orang tuanya.

“Rumah itu tanpa pintu dan jendela, hanya dibatasi potongan seng bekas untuk menutupi, tidak ada satu pun perabotan rumah tangga. Suatu hari, kami mendengar kabar, kedua kakak beradik ini memakan kucing mati hanya karena ingin makan daging,” tutur Ardiansyah.

Masih kata Ardiansyah, “melihat dari keterbatasan yang, bisa jadi, usia yang disebutkan Wagimin saat ditanya awak media pun tidak tepat, kedua orangtuanya sudah lama tiada,” ungkapnya.

Koordinator KJB Lampura, Firmansyah, menyampaikan, jika keterbelakangan memtal yang mereka idap selama ini hanya sewaktu-waktu saja kambuh. Dan ia memastikan, keduanya bukan sakit jiwa.

“Mereka bukan orang gila, saya kira hanya depresi ringan yang sewaktu-waktu kambuh. Itupun tidak mengganggu warga sekitar. Saya yakin, depresi yang dialami keduanya disebabkan faktor ekonomi yang tidak mampu mereka atasi karena berbagai keterbatasan yang mereka miliki,” ujar Firmansyah, Jum’at, (20/9/2019).

Saat dikunjungi, Wagimin dan Suyatno sedang memasak air dengan kayu bakar dan sebuah kaleng bekas.

“Ini air buat saya minum, Pak,” sambut Wagimin sambil mempersilakan tim masuk ke dalam rumahnya.

Komunikasi sangat baik dan lancar, hal ini tentu menampik anggapan jika Wagimin adalah orang gila dan tim langsung menyerahkan berbagai bantuan sembako yang dihimpun dari para dermawan.

Dalam wawancara, Wagimin mengatakan, ia bersama adiknya, beberapa waktu lalu, mengakui memakan kucing mati.

“Iya, Pak. Saya dan adik saya memang makan kucing mati. Waktu itu, yah, karena kepingin aja makan daging. Saya lihat kucing mati di pinggir jalan. Saya bawa pulang dan saya bakar untuk saya makan dengan adik saya,” tutur Wagimin.

Menurutnya, mereka memakan kucing mati itu bukan karena sudah terbiasa, namun karena saat itu tidak ada bahan makanan yang hendak mereka makan.

“Ya, saya makan kucing itu tidak setiap hari kok, Pak. Hanya kebetulan saja ada kucing mati, makanya saya bawa pulang untuk dimakan,” aku Wagimin.

Saat kedatangan tim, adiknya sedang pergi main. Dalam kesehariannya, Wagimin bekerja sebagai pemulung barang bekas untuk dijual. Tampak tumpukan kardus dan berbagai botol plastik bekas di samping rumah.

“Rumah kami ini peninggalan orang tua, Pak. Yah, beginilah. Kalau untuk tidur, yah, kami pakai kardus-kardus bekas. Kadang-kadang ada tetangga yang kasih kami makan, Pak,” ujar Wagimin. (Arya)

TAGGED:featured
Share This Article
Facebook Email Print
Byredaksi
Farihan, S.H
Previous Article Usai Lantik 4 Kades Di Sukaratu, Nanang Resmikan Jembatan Patriot
Next Article Di Lapangan Golf Bandar Lampung, SMSI Gelar Rakor
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cegah Kluster Covid-19, Lapas Kalianda Gelar Screening Terhadap Warga Binaan
Bupati Lamsel Tinjau Jalan Penghubung Antar Desa Mekar Sari dan Lembung Sari
Kasal : “Bertugas ditengah Samudera Harus didasari Fisik yang Kuat”
Bersama Aparat Gabungan, Polres Lamsel Gelar Ops Yustisi
Mantap…!!! Lesty Berikan Apresiasi Terkait MA Batalkan Kenaikan Iuran BPJS
  • Beranda
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Term & Conditions

Find Us on Socials

© www.hanuang.com. All Rights Reserved.
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?