Hanuang.com — Operasi pencarian korban kapal KM Virgo Transport 8 yang terbalik dan tenggelam di perairan Laut Jawa memasuki tahap yang semakin kompleks. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mengungkap bangkai kapal kini berada di kedalaman sekitar 30 meter dan telah bergeser dari titik awal tenggelam.
Kepala Basarnas Mohammad Syafii mengatakan, perubahan posisi bangkai kapal menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan strategi operasi pencarian dan pertolongan.
Dilansir Antara, Selasa (15/9/2026), Syafii menyebut posisi datum atau titik lokasi kapal pada hari kedua operasi SAR bergeser sekitar 1,6 nautical mile atau mil laut ke arah barat. Kapal masih berada dalam kondisi terbalik.
“Posisi datum atau titik letak dari kapal Virgo Transport 8 ini ada pergeseran. Dari yang kemarin saya sampaikan, saat ini sudah bergeser kira-kira 1,6 nautical mile (mil laut) ke arah barat dalam kondisi terbalik,” ujar Syafii.
Menurut Syafii, pergeseran tersebut mengikuti kondisi arus di perairan lokasi kecelakaan. Kondisi ini membuat keberadaan bangkai kapal harus terus dipantau dan dipetakan ulang agar operasi pencarian dapat dilakukan secara tepat.
Syafii mengungkapkan, bangkai KM Virgo Transport 8 kini berada di kedalaman sekitar 30 meter. Kedalaman tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan metode penanganan, terutama jika operasi akan diarahkan untuk memasuki bagian dalam kapal.
Basarnas juga mempertimbangkan masukan dari TNI Angkatan Laut agar kapal yang sudah berada di dasar laut tidak dipaksakan untuk bergerak apabila kondisi tersebut justru dapat membuat penanganan menjadi lebih berisiko.
“Dari teman-teman TNI Angkatan Laut, malah kalau perlu tenggelam di dasar akan lebih baik kalau misalkan kapal itu diam,” kata Syafii.
Meski demikian, Basarnas tetap mengkaji kemungkinan menarik maupun mengubah posisi kapal sebagai bagian dari rencana penanganan lanjutan. Namun untuk sementara, prioritas operasi masih diarahkan pada pencarian korban di permukaan air.
“Tentu kita masih sangat berharap agar segera ditemukan korban-korban dalam kondisi selamat,” ujarnya.
Posisi kapal yang kini tengkurap menjadi tantangan tersendiri bagi tim penyelam. Basarnas menegaskan operasi penyelaman ke dalam badan kapal tidak dapat dilakukan secara sembarangan sebelum seluruh persyaratan keselamatan terpenuhi.
Kondisi cuaca, lingkungan bawah laut, posisi kapal hingga struktur bagian dalam menjadi faktor yang harus diperhitungkan.
“Kalau misalkan posisinya tengkurap pada saat tim penyelam itu masuk, tentunya memiliki risiko tersendiri dan operasi hanya bisa dilaksanakan apabila memenuhi ketentuan dan safety first, artinya jaminan aman,” tegas Syafii.
Risiko semakin besar karena kapal masih memiliki sejumlah sekat dan ruang kosong di dalam badan kapal. Ruang-ruang tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas kapal ketika terjadi perubahan tekanan atau saat bagian tertentu dibuka.
Syafii mengingatkan, tindakan membuka sekat secara paksa justru dapat menciptakan perubahan tekanan yang membahayakan penyelam.
“Apabila kita membuka misalkan salah satu sekat dari ruang kosong ini, di situ ada perubahan tekanan yang luar biasa, tentunya ini akan sangat membahayakan,” katanya.
Karena itu, kemampuan penyelam juga harus disesuaikan dengan standar keselamatan dan karakteristik kondisi kapal yang dihadapi.
Menghadapi situasi tersebut, Basarnas mulai menyiapkan pembahasan teknis bersama personel yang memiliki pengalaman dan pendidikan khusus dalam menangani kecelakaan kapal tenggelam.
“Kita akan melaksanakan diskusi dan kita melibatkan personel-personel yang memang memiliki kemampuan, baik itu pengalaman atau pendidikan di kondisi-kondisi ini. Ini yang akan kita kembangkan,” ujar Syafii.
Salah satu opsi yang tengah dikaji adalah mengubah posisi KM Virgo Transport 8 dari kondisi tengkurap ke posisi yang dinilai lebih memungkinkan untuk mendukung pencarian korban di bagian dalam kapal.
Namun, opsi tersebut belum menjadi keputusan final. Setiap langkah masih harus melalui kajian teknis dengan mempertimbangkan keselamatan personel, kondisi kapal, arus, kedalaman, serta lingkungan bawah laut.
Di sisi lain, operasi pencarian tetap dilakukan dengan mengerahkan enam sektor peta yang telah digunakan pada hari kedua operasi.
Seiring bergesernya posisi datum, pembagian sektor pencarian kemungkinan akan kembali disesuaikan pada operasi berikutnya.
“Kemungkinan kita akan bergeser besok dan nanti akan dikirimkan dari SAR Map yang dihasilkan dari Basarnas Command Center,” kata Syafii.
Pergeseran strategi tersebut menunjukkan bahwa operasi SAR KM Virgo Transport 8 tidak hanya berpacu dengan waktu, tetapi juga harus menyesuaikan dinamika kondisi laut dan posisi bangkai kapal.
Di tengah berbagai tantangan teknis tersebut, Basarnas memastikan pencarian tetap dimaksimalkan dengan satu prinsip utama: keselamatan penyelamat tetap menjadi prioritas, tanpa mengurangi upaya menemukan korban secepat mungkin. (Arya)