Connect with us

Pariwisata

Ternyata Destinasi Wisata Di Lamsel Curi Perhatian Nasional

Published

on

Hanuang.com – Provinsi Lampung kembali menjadi pusat perhatian nasional. Selain dikenal sebagai pintu gerbangnya Pulau Sumatera, Provinsi Lampung juga dikenal memiliki destinasi wisata yang indah.

Hal itu terbukti dengan dilaksanakannya Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Paramotor Indonesia di Pantai Kedu Warna Kalianda, yang merupakan salah satu destinasi wisata Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel), pada Jumat (14/12/18).

Setalah berulang kali mendapat penghargaan bergengsi baik ditingkat provinsi maupun nasional, Kabupaten Lamsel juga beberapa kali mendapat kesempatan penyelenggara event-event nasional. Seperti tuan rumah Kejurnas Paramotor Indonesia tahun 2018.

Sebelumnya, masih dalam rangkaian HUT Kabupaten Lamsel ke-62, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamsel juga menggelar lomba lari 10 kilometer yang diikuti peserta dan atlet dari berbagai negara.

Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan baik, Pemkab Lamsel juga memasukan agenda Kejurnas Paramotor Indonesia ke dalam rangkaian mperingatan HUT Kabupaten Lampung Selatan yang Ke-62.

Seperti diketahui sebelumnya, Ketua Pelaksana Kejurnas Paramotor Indonesia, Bambang Abiyono bersama panitia lainnya telah meninjau beberapa tempat sebagai lokasi Kejurnas tersebut.

Namun, dari beberapa survei yang dilakukan, lokasi Pantai Kedu Warna yang terletak di pusat Kota Kalianda, Kabupaten Lamsel, terpilih menjadi tempat pelaksanaan Kejurnas Paramotor Indonesia tahun 2018.

Panitia pelaksana menilai, selain memiliki tempat yang luas, masyarakat dan pemerintah setempat sangat mendukung diadakannya kegiatan tersebut.

“Kita pilih Pantai Kedu Warna sebagai tempat pelaksanaan. Selain bibir pantainya luas, landai, yang utama juga masyarakat dan pemerintah setempat sangat mendukung,” kata Bambang Abiyono.

Bahkan, kata dia, hal itu dibuktikannya dengan keseriusan Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Lamsel berserta jajaranya dan masyarakat melakukan kegiatan bersih pantai sebelum dilaksanakannya perlombaan tersebut.

Sementara, Bambang menjelaskan, Kejurnas itu akan dilangsungkan mulai tanggal 13 hingga 16 Desember 2018. Tercatat 30 atlet dari berbagai provinsi di Indonesia mengikuti Kejurnas tersebut.

“Peserta terdiri dari berbagai Provinsi di Indonesia, diantaranya, Banten 3 orang, Lampung 2 orang, Sumbar 6 orang, Jabar 6 orang, Papua 2 orang, Sulsel 1 orang, Jambi 1 orang, DIY 1 orang, DKI 4 orang, dan Jatim 4 orang,” terangnya.

Dikesempatan itu, dirinya juga tak lupa menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak, khususnya Pemkab Lamsel yang telah mendukung penuh, sehingga terlaksananya kegiatan tersebut.

“Kami sampaikan apresiasi kepada Plt. Bupati Lampung Selatan, atas dukungannya yang sangat kami rasakan baik sekali. Begitu juga dengan seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan,” ucapnya.

Sementara itu, Plt. Bupati Lamsel, Nanang Ermanto menyatakan, Pemerintah Kabupaten Lamsel akan terus mendukung digelarnya berbagai event olahraga di kabupaten yang dikenal sebagai Gerbang Krakatau itu.

Sebab katanya, selain bermanfaat mengasah keterampilan atlet-atlet lokal daerah, melalui event-event olahraga nasional, diharapkan dapat mengangkat dan menjual wisata Kabupaten Lamsel, dikancah nasional maupun internasional.

“Kedepan ini menjadi motivasi kami berbuat yang lebih baik lagi. Mudah-mudahan Lampung Selatan masih dipercaya menjadi tuan rumah, sehingga Lampung Selatan bisa dikenal sebagai destinasi wisata nasional dan internasional,” katanya. (Arya/Kmf)

 1,278 total views,  4 views today

Lampung Selatan

Ini 14 Poin Yang Menyebabkan Festival Kalianda 2019 Kurang Meriah

Published

on

By

Hanuang.com – berikut beberapa fakta Festival Kalianda 2019 menurut penilaian dari Redaksi Hanuang yang dianggap sangat jauh berbeda dan kurang meriah dengan tahun sebelumnya, Senin, (15/07/19).

1. Kurangnya Sosialisasi

Banyak masyarakat luas dari kalangan menengah kebawah yang tidak mengetahui gaung dari rangkaian acara Festival Kalianda 2019. Karena diduga kurangnya sosialisasi dari Dinas terkait menyebabkan gaung Festival Kalianda tidak menggema hingga pelosok Lamsel.

2. Kurangnya Publikasi

Rekanan atau partner dari media yang tidak falid dan kurangnya publikasi dari media online, cetak, maupun elektronik yang menyebabkan gaung dan rangkaian Festival Kalianda 2019 tidak menggema di wilayah Lamsel. Bahkan banyak media yang mempertanyakan anggaran MOU yang terkesan tertutup dan berbeda nilai satu sama lainnya. Selain itu rangkaian atau Rundown acara hanya berada dikalangan internal saja, sehingga banyak media yang tidak mengetahuinya.

3. Perwakilan Lomba Lagu Daerah Diduga Tak Jelas

Perwakilan lagu daerah banyak yang tidak jelas, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lamsel menuliskan pemenang merupakan perwakilan SMA atau SMK ternama di Lamsel, akan tetapi, faktanya ada peserta dan juara sendiri bingung, karena merasa tidak pernah mewakili sekolah yang ditunjuk, bahkan tidak ada kontribusi karena peserta ada yang mendaftarkan diri secara pribadi.

4. Touring Bike Yang Terkesan Memaksakan Rute

Rute atau jarak tempuh bagi peserta touring bike dianggap terlalu jauh sehingga banyak terlihat para peserta yang kelelahan. Seperti di Desa Kunjir, peserta ramai menaikkan sepedanya ke mobil dan melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan. Sebelumnya terkait rute tersebut sempat dibahas oleh peserta dalam rapat yang digelar dilingkup Pemkab Lamsel.

5. Sampah Yang Berserakan

Banyak masyarakat yang mengunjungi wisata kuliner dermaga Bom menilai usai acara Touring Bike meninggalkan sampah dimana-mana. Padahal setiap minggunya pihak Kecamatan Kalianda selalu bersih-bersih dan menghimbau agar tidak membuang sampah sembarangan dilokasi tersebut yang terkenal dengan Program GEBER (Gerakan Bersih-Bersih) namun panitia terkesan acuh.

6. Cuaca Yang Tak Menentu

Cuaca tak terduga merupakan salah satu penyebab tak meriahnya rangkaian Festival Kalianda 2019, terlihat dari acara Grand Final Pemilihan Muli Mekhanai, dimana ditengah acara hujan deras dicampur petir mengguyur yang membubarkan para penonton dalam ajang tersebut.

7. Banyaknya Seniman Lokal Atau Penggiat Wisata Tak Dilibatkan

Banyak penggiat seni atau seniman lokal yang merasa tidak dilibatkan dalam acara tersebut, padahal menurut mereka, pihaknya dapat memberikan sumbangsih saran untuk kemajuan pariwisata dan budaya dalam ajang Festival Kalianda 2019 tersebut.

8. Anggaran Yang Tidak Jelas

Anggaran dianggap tidak jelas karena banyak kawan-kawan media tidak mengetahuinya, jadi terkesan anggaran tersebut terlalu sedikit atau terlalu tertutup, diduga sebelumnya pihak Dinas terkait telah melakukan pemborosan anggaran akibat salahnya pencetakan Banner yang sudah tersebar di wilayah Lampung. Dimana banner yang dipasang merupakan gambar Bupati Lamsel Nanang Ermanto yang menggunakan Topi Adat (Kikat) bukan Khas Lamsel atau dari luar daerah. Padahal ajang Festival Kalianda 2019 merupakan kegiatan tahunan daripada Kabupaten Lamsel.

9. Kurangnya Koordinasi Dengan Pemuda

Pemuda merupakan salah satu ujung tombak pembangunan, baik dari segi pembangunan wisata dan budaya, dalam ajang Festival Kalianda 2019, banyak pemuda yang tidak terlibat, contohnya saja organisasi milik Pemerintah (Plat Merah_red) seperti Karang Taruna dan KNPI yang terkesan tidak dilibatkan sama sekali. Apalagi pihak panitia mau melibatkan Ormas ataupun LSM serta Pokdarwis yang ada di Lamsel jika OKP milik Pemerintah saja diabaikan.

10. Masyarakat Lokal Yang Terkesan Acuh

Masyarakat lokal yang terkesan acuh dan kurangnya kesadaran terhadap Festival Kalianda 2019 dimana masyarakat kurang peduli dan memandang kegiatan tersebut merupakan Ceremonial dari Pemerintah setempat saja. Selain itu kesibukan dan aktifitas masyarakat sehari-hari dalam bekerja dan berusaha menjadikan mereka abai akan kegiatan yang ada di wilayahnya.

11. Muncul Pelaku Ujaran Kebencian

Berbeda dengan tahun sebelumnya, Festival Kalianda 2019 kali ini memunculkan pelaku ujaran kebencian, dimana ujaran kebencian tersebut ditimbukan oleh Netizen dari Media Sosial (Facebook) terkait pemberitaan mengenai sampah yang berserakan usai acara Touring Bike, akibat perbuatannya, pelaku mendapatkan kecaman dari lembaga wartawan ataupun organisasi wartawan yang ada di Lamsel yakni Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lamsel, Jurnalis Siber Komuniti (JUSI) Lamsel, serta Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Lamsel. Pelaku sempat akan dilaporkan kepada pihak berwajib (Ranah Hukum) dengan dugaan Ujaran Kebencian, yang berakhir dengan pelaku meminta maaf kepada perwakilan organisasi wartawan di Lamsel.

12. Event Pawai Budaya Memakan Korban

Dalam acara pawai budaya yang digelar di lapangan Cipta Karya memakan korban, seorang bocah diduga mengalami patah kaki dalam berebut makanan otak-otak yang disediakan panitia, bahkan orang tua korban harus marah-marah dan mengamuk diatas panggung menggunakan pengeras suara, meminta kendaraan ambulan untuk membantu anaknya dengan mengantarkan ke RSUD setempat.

13. Tak Ada Perwakilan Duta Besar

Sungguh berbeda dengan tahun sebelumnya, dimana dalam Festival Kalianda 2019 tak lagi menampilkan perwakilan Duta Besar dari berbagai negara. Padahal sebelumnya, saat Festival Krakatau 2018, sebanyak 8 Dubes dari Perwakilan Negara Sahabat datang mengunjungi.

14. Hilangnya Lomba Fotografi & Video Blog

Lomba terkait gambar dan video yang menceritakan atau mengeksplorasi wisata dan adat budaya yang ada di Lampung Selatan kini sudah hilang dari rangkaian Festival Kalianda 2019. Sebelumnya lomba tersebut sempat digaungkan dalam Festival Krakatau 2018 dengan Tema The Real Of Krakatoa.

Berbagai Link Media Terkait Festival Kalianda 2019 yang dianggap kurang menarik dan menurun drastis dari tahun sebelumnya :

https://lampung.tribunnews.com/2019/07/08/warga-nilai-festival-kalianda-tidak-semarak

https://hanggumpost.com/2019/07/kurang-greget-masyarakat-sekitar-dermaga-bom-kalianda-tidak-tahu-ada-kegiatan-touring-bike.html

https://hanggumpost.com/2019/07/malam-final-muli-mekhanai-lamsel-2019-tata-panggung-terkesan-dadakan.html

https://hanggumpost.com/2019/07/banyak-bangku-kosong-acara-lomba-lagu-daerah-lampung-kurang-meriah.html

*KAPI Sebut Festival Kalianda 2019 Terkesan Tertutup* http://bidikkasus.id/detailpost/kapi-sebut-festival-kalianda-2019-terkesan-tertutup

http://searchernews.com/2019/07/09/kapi-festival-kalianda-tahun-2019-minim-sosialisasi-dan-promosi/

https://hanggumpost.com/2019/07/hujan-campur-petir-penonton-muli-mekhanai-bubar-jalan.htm

→ https://www.kaliandanews.com/2019/07/usai-touring-bike-festival-kalianda.html

https://hanuang.com/pwi-smsi-dan-jusi-kecam-netizen-yang-menghina-tugas-wartawan-di-lamsel/

→ https://www.kaliandanews.com/2019/07/ini-kritik-pedas-seniman-lokal-terkait.html

Selain itu, berikut daftar Kritisi yang berhasil dirangkum oleh www.hanuang.com saat menggelar tanya jawab mengenai kemeriahan Festival Kalianda 2019 :

Ketua Umum Ormas GML (Rizal Anwar)

“Intinya apapun kegiatan di Lampung selatan harapan saya coba diberi contoh buat kabupaten yang lain, Kitakan kota yang paling tua apalagi Lampung selatan serambi Sumatra jangan kita yang mencontoh mereka, oke Itu harapan masyarakat menuju Lampung selatan maju” ujarnya.

Anggota DPRD Terpilih Provinsi Lampung Asli Putra Daerah Lamsel (Nurul Ikhwan)

“Harus lebih inovatif dalam setiap pelaksanaan kegiatan bukan hanya sekedar seremonial saja tapi tidak memberikan dampak besar bagi pariwisata lamsel dan membangun brand yang kuat bagi kegiatan festival sehingga mendatangkan banyak pengunjung bukan hanya dari lamsel tapi juga dari luar lamsel serta dari luar lampung dan selalu menjaga kebersihan kegiatan sebagai upaya edukasi kepada masyarakat dan memberikan keamanan dan kenyamanan bagi pengunjung sehingga tidak terjadi kecelakaan yang akan menimbulkan dampak buruk, ajak seluruh komponen yang ada untuk membangun brand festival termasuk didalamnya mengundang konsultan pariwisata berskala internasional untuk memberikan dampak yang besar bagi sektor pariwisata di lamsel dan terakhir adalah evaluasi dinas pariwisata lamsel karena ujung tombak kemajuan pariwisata di lamsel ada di dinas pariwisata dan bertahun – tahun yg dilakukan hanya kegiatan itu-itu saja tapi tidak memberikan dampak yang besar yang seharusnya sektor pariwisata jadi ujung tombak PAD yg kemudian meningkatkan perekonomian masyarakat yg ada di tempat-tempat wisata” ungkapnya.

Musisi Lokal (Iwan J. Sastra)

salah satu musisi lokal dan sekaligus seniman Lampung selatan ini menjelaskan pagelaran Lomba Solo Song yang sudah digelar pada Sabtu (6/7) kemarin, juga kurang maksimal dan monoton.

“Sejauh ini kita perhatikan lomba menyanyi tidak ada inovasi. Harusnya diberi kesempatan untuk para seniman lokal untuk berkontribusi. Terutama para seniman Muda yang memiliki hobi bermusik, dan juga libatkan yang memang sudah pernah bermitra dengan dinas pariwisata,” bebernya.

“Lampung Selatan juga punya Dekranasda. Hal itu bisa diberdayakan dengan diadakannya pameran berbagai kerajinan lokal. Mungkin pengunjung akan ramai, inikan festival kalianda jadi harus menghidupkan hal yang ada di Kalianda. Kita juga punya beberapa rumah adat dan itu bisa menjadi rujukan untuk para peserta muli mekhanai lebih mengenal lagi budaya dan peninggalan serta sejarah lampung selatan,” Tandasnya.

Himals selaku Perwakilan Mahasiswa (Ujang Abdul Aziz)

“Pada dasarnya adanya festifal Kalianda bertujuan untuk melestarian budaya dengan revitalisasi budaya (penguatan) yang dibalut seremonial acara. Namun hari ini yang perlu menjadi catatan pemerintah daerah harusnya melibatkan mahasiswa sebagai akademisi yang bisa memberikan sumbangsih pemikiran, konsep, dan inovasi sebagai langkah kongkrit  dalam membangun dan meningkatkan kualitas pariwisata kita di lampung selatan. Mahasiswa banyak berperan aktif namun justru pemerintah daerah lebih suka memberdayaakan masyarakan luar daerah ketimbang masyarakat lokal. Salah satu contoh menumpang di acara Mahasiswa Unila. Karna ke aslian itu penting karna pada akhirnya masyarakat lokal lah yang akan mengelola dan menjaganya” tandasnya.

Perwakilan Pemuda/Karang Taruna Lamsel (Erdiansyah)

“Pada dasarnya Festival Kalianda lancar dan cukup sukses menghibur, hanya saja perlu perbaikan disana-sini terutama pelibatan masyarakat dan promosi wisatawan domestik/mancanegara disetiap event yang harus digencarkan, kalau perlu tv Nasional untuk promosi sperti ditempat lain tour de singkarak, wakatobi, jember fest dan lainnya. Dengan kemasan dan inovasi kgiatan yang lebih menarik dan unik, selain itu dihadirkan artis yang lebih terkenal, secara teknis tiap event dtingkatkan kualitas sound/tatacahaya yang lebih maksimal, keamanannya dan tim kesehatan event yang lebih sigap, secara kseluruhan sukses.” jelasnya.

Perwakilan LSM KAPI (Dedi Manda)

Kurang maksimalnya kegiatan yang diselenggarakan, sebab banyak warga masyarakat yang tidak tahu terkait kegiatan tersebut. Bahkan kegiatannya pun terkesan dipaksakan, padahal kita sama-sama mengetahui kalau festival kalianda adalah agenda tahunan tingkat kabupaten yang diselenggarakan terpusat di kota kabupaten. Seharusnya ini menadi hiburan sekaligus ajang promosi baik dari bidang ekonomi sosial dan budaya. Tapi kegiatan yang diselenggarakan terkesan dipaksakan sebab tidak terdapat capaian yang kongkrit (kemajuan dari tahun sebelumnya) Kegiatan yang semestinya menjadi hajat semua lapisan elemen masyarakat justru berbalik, seperti pesta para elit birokrat. Mungkin kurangnya sosialisasi, atau konsep yang terkesan dipaksakan dan lainnya. Atau mungkin karena minim anggaran. Sebab tidak banyak yang tahu terkait besaran anggaran, Mungkin acara puncak akan lebih baik jika dibuat agenda do’a bersama agar lampung selatan lebih baik dan bersih dari koruptor” tutupnya. (Arya)

 5,398 total views,  5 views today

Continue Reading

Lampung Selatan

Rangkaian Festival Kalianda 2019, Berikut Daftar Pemenang Lomba Lagu Daerah Lampung

Published

on

By

Hanuang.com – Berikut daftar nama pemenang lomba lagu daerah Lampung, yang di selenggarakan Di panggung hiburan GOR Way Handak (GWH), Kalianda, Lamsel, Sabtu Malam, (06/07/19).

Lomba lagu daerah tersebut merupakan kegiatan tahunan yang digelar oleh Dinas Pariwisata & Kebudayaan (Disparbud) Lamsel yang merupakan rangkaian dari acara Festival Kalianda 2019.

Berikut nama-nama pemenang atau juara dalam lomba menyanyikan Lagu Khas Daerah Lampung tersebut :

FB_IMG_1562444875790 Rangkaian Festival Kalianda 2019, Berikut Daftar Pemenang Lomba Lagu Daerah Lampung
  • Juara I diraih oleh Neo Safitri berasal dari SMA 1 Tanjung Bintang.
  • juara II, diraih oleh Peri Gunawan, berasal dari SMKN 1 Kalianda.
  • juara III, diraih oleh Anton Zulkarnain, berasal dari Kecamatan Kalianda.

Selain ketiga juara umum tersebut, pihak dari panitia pelaksana juga menetapkan juara harapan, yakni diantaranya :

  • Juara Harapan I, diraih oleh Nadila Dwi Putri, berasal dari SMKN Sragi.
  • Juara Harapan II, diraih oleh Rahmat, S.pd, berasal SMPN Jati Agung.
  • Juara Harapan III, diraih oleh Qori Hayatun Nufus, berasal dari Kecamatan Ketapang.

Penulis : Muhammad Arya Malikul Mulki

Sumber : Dinas Pariwisata & Kebudayaan Lampung Selatan

 3,406 total views,  9 views today

Continue Reading

Lampung Selatan

Hari Ini, 118 Peserta Ikuti Seleksi Pemilihan Muli Mekhanai Lamsel 2019

Published

on

By

Hanuang.com – Ratusan putra-putri di Lampung Selatan mengikuti seleksi tahap awal pemilihan Muli Mekhanai Lampung Selatan Tahun 2019.

Kegiatan yang dilaksanakan di Balai Rumah Adat Kalianda yang berada di depan GOR Way Handak, Sabtu (6/7/2019), diikuti 118 peserta yang terdiri dari 60 Muli dan 58 Mekhanai.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayan Lampung Selatan Ir. Rini Ariasih, MM yang membuka kegiatan itu menjelaskan, pemilihan Muli Mekhanai merupakan ajang tahunan yang rutin digelar untuk memeriahkan Festival Kalianda.

“Untuk yang menjadi juara satu akan kami ikut sertakan dalam pemilihan Muli Mekhanai ditingkat Provinsi Lampung, bahkan tingkat nasional,” ujar Rini sapaan akrabnya.

Lebih lanjut Rini mengungkapkan, dalam pemilihan Muli Mekhanai bukan hanya menampilan kecantikan fisik semata, akan tetapi lebih menonjolkan intelektual, penguasaan materi, dan sikap atau prilaku.

“Yang utamanya adalah menampilkan brain (kecerdasan) dan kemudian kita nilai juga sikap prilaku. Karena suatu karakter itu tidak bisa dibuat-buat, karakter itu tumbuh dari dalam, serta kebiasaan. Itu yang disebut iner beauty. Namun ini bisa kita kembangkan dan bisa kita perbaiki tergantung dari kemauan diri sendiri,” tuturnya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Lampung Selatan ini pun berharap, seluruh peserta dapat menjaga kesehatan fisik dan sikap disiplin sehingga dapat mengikuti perlombaan tersebut hingga selesai.

“Saya harap adik-adik ini dapat menjaga stamina agar tetap fit, mulai dari tes tertulis, wawancara, talent sampai nanti grand final yang rencananya dilaksanakan pada Senin malam besok,” imbuhnya.

Diakhir, Rini juga berharap, kegiatan tersebut bisa berjalan dengan sukes. Untuk itu, pihaknya akan berupaya semaksimal mungkin dan akan melakukan penilaian kepada peserta seobjektif mungkin. Mulai dari segi kerpibadian, public speaking, talent, dan lain-lain.

“Nanti nilai tersebut akan kami akumulasikan dan tentunya kami akan lakukan dengan sportif. Untuk itu saya minta adik-adik ini menunjukkan semua kemampuan, talenta dan kepribadian positif yang dimiliki,” pungkasnya. (Arya)

 2,269 total views,  1 views today

Continue Reading

Trending Topic