Connect with us

Bandar Lampung

Pekan Depan Zainudin Hasan Akan Disidangkan Di Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjung Karang

Published

on

Hanuang.com – KPK RI mengeluarkan rilis jadwal sidang dakwaan terhadap Bupati Lampung Selatan, Non Aktif, Zainudin Hasan, yang akan digelar pada Senin, (17/12/18), pekan depan.

Juru Bicara KPK RI, Febri Diansyah menerangkan jaksa penuntut umum (JPU) akan mendakwa Zainudin Hasan dengan dua pasal. Yakni terkait tindak pidana korupsi (TPK) dan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

”Didakwa secara kumulatif melakukan suap, konflik kepentingan dalam pengadaan gratifikasi dan pencucian uang,” jelasnya, Senin (10/12/18).

Diperkirakan adik kandung dari Ketua MPR RI tersebut menerima suap hingga ratusan milyar rupiah selama dirinya menjabat sebagai Bupati di Kabupaten Lamsel.

”Diduga total penerimaan suap dan gratifikasi dari sejumlah pihak selama menjabat mencapai Rp100 miliar. Sebagian diantaranya diubah menjadi aset atas nama pihak lain ataupun nama pribadinya” ungkapnya.

Humas PN Tanjung Karang, Bandar Lampung, Mansyur Bustami membenarkan atas sidang Zainudin Hasan yang akan digelar pekan depan tersbut.

”Iya Senin pekan depan. Sudah ya saya mau sidang dulu” jelasnya. (*)

 1,921 total views,  3 views today

Bandar Lampung

Jurnalis TV Dapat Ancaman, AJI : ‘Aparat Kepolisian Wajib Usut Tuntas’

Published

on

By

Hanuang.com, BANDAR LAMPUNG–Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung, mengecam keras aksi intimidasi terhadap Yehezkiel Ngantung, jurnalis Metro TV Lampung. Yehezkiel mengalami kekerasan saat menjalankan kerja-kerja jurnalistik.

“Korban telah melaporkan kasus ini ke Polres Lampung Barat. Kami mendesak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus tersebut,” kata Ketua AJI Bandar Lampung Hendry Sihaloho, Rabu, 5/5/2021.

Hendry mengatakan, peristiwa itu bermula ketika Yehezkiel menyaksikan kericuhan di depan kantor bagian Unit Layanan Pengadaan di kompleks Pemkab Lampung Barat, Selasa siang, 4/5/2021. Instingnya sebagai jurnalis pun bekerja. Sambil mengatur jarak aman, Yehezkiel mendokumentasikan keributan tersebut.

Menyadari direkam, beberapa orang yang diduga oknum preman menghampiri Yehezkiel. Mereka melarang Yehezkiel mengambil gambar, bahkan berusaha merebut kamera sang jurnalis. Dalam situasi tersebut, korban mendengar perkataan bernada ancaman, “Jangan macam-macam. Saya pecahkan kepala kamu!”

“Keterangan korban, ada seseorang yang terus mengejarnya. Saat itu, korban melihat orang yang mengejarnya menyimpan pisau yang diselipkan di bagian pinggang,” ujar Hendry.

Hendry meminta semua pihak menghormati aktivitas jurnalistik. Sebab, keberadaan jurnalis untuk menjaga dan memastikan hak-hak publik terpenuhi, di antaranya hak atas informasi. Selain itu, kerja-kerja jurnalisme dilindungi UU 40/1999 tentang Pers.

“Pasal 18 UU Pers mengatur bahwa setiap orang yang menghambat atau menghalangi aktivitas jurnalistik dipidana penjara dua tahun atau denda Rp500 juta,” kata dia.

Hendry mengimbau komunitas pers, termasuk perusahaan media, berkomitmen terhadap keselamatan jurnalis. Perlu upaya bersama-sama untuk memutus rantai kekerasan terhadap jurnalis. Bila tidak, maka kekerasan yang menimpa wartawan akan terus terulang.

“Kekerasan demi kekerasan terhadap jurnalis membuktikan bahwa kebebasan pers itu mesti diperjuangkan. Jika memang serius dan peduli akan kebebasan pers, mari mengawal kasus kekerasan terhadap jurnalis agar diusut tuntas. Jangan menoleransi upaya-upaya yang mengarah pada perdamaian,” ujar Hendry.

 715 total views,  35 views today

Continue Reading

Bandar Lampung

Hasil Kesepakatan Bersama, Tahun Ini Salat Ied Berjamaah di Masjid dan di Lapangan Ditiadakan

Published

on

By

Keterangan Foto : Gambar Merupakan Ilustrasi Salat Ied Yang Diambil Dari Google

Hanuang.com – Pelaksanaan Salat Idul Fitri 1442 Hijriah di Provinsi Lampung disepakati bersama untuk tidak dilakukan secara berjamaah di masjid atau tanah lapang melainkan di rumah masing-masing.

Hal tersebut sesuai kesepakatan bersama antara Gubernur, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Lampung, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Bupati/Walikota se-Provinsi Lampung, Rektor UIN Lampung dan Pengurus Majelis Ulama Indonesia Lampung.

Berdasarkan surat ‘Kesepakatan Bersama’ tersebut, menyatakan bahwa Gubernur Lampung, Kementerian Agama Provinsi Lampung, hingga bupati serta wali kota se-Provinsi Lampung, sepakat pelaksanaan salat Idul Fitri 1442 Hijriah dilaksanakan di rumah.

Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi mengatakan, dengan memperhatikan kecenderungan peningkatan pandemi Covid-19 dalam beberapa waktu terakhir, diperlukan upaya tegas dan konsisten dalam pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat. Termasuk dalam pembatasan kegiatan ibadah berjamaah di rumah ibadah dan di tanah lapang.

“Pelaksanaan Salat Idul Fitri 1 Syawal 1442 Hijriah tidak dilaksanakan secara berjemaah di masjid atau di tanah lapang. Tetapi masyarakat dapat menunaikan salat Idul Fitri di rumah masing-masing,” kata Gubernur Lampung Arinal Djunaidi kepada awak media, Senin (26/4/2021).

Kesepakatan tersebut dibuat mengingat salat Idul Fitri hukumnya sunnah, sehingga pelaksanaannya dapat disesuaikan untuk meminimalisir penularan akibat virus COVID-19 yang sangat membahayakan.

Disamping itu, dalam Surat Edaran dengan Nomor 045.2/1604/V.02/2021 Gubernur juga meminta Bupati/Walikota se-Provinsi Lampung untuk melakukan Pengetatan Protokol Kesehatan di Pasar Tradisonal, Arus Mudik dan Percepatan Vaksinasi Pada Pelayan Publik. (*)

 3,926 total views,  49 views today

Continue Reading

Bandar Lampung

Menguji Taji KPK Hadapi Kanjeng Ratu Nunik Dalam Pusaran Kasus Mustafa

Published

on

By

Hanuang.com – Mustafa adalah sosok publik figur yang tidak hanya cakap berbicara dengan mic dihadapan masyarakat tetapi juga pintar melantunkan lagu dengan suara emas yang menjadi ciri khasnya. Terbilang cukup paling energik diantara Kepala Daerah yang ada di Lampung saat itu, Lebih-lebih nama Mustafa semakin mengudara diberbagai penjuru Lampung pasca dirinya memutuskan untuk ikut serta dalam kontestasi pemilihan Gubernur tahun 2018 lalu.

Namun lagu-lagu kesayangan yang kerap didengar publik dengan suara emasnya baik sewaktu menjabat Bupati Lampung Tengah maupun momentum kampanye pada Pemilihan Gubernur waktu itu kini berubah pasca dirinya terkena OTT KPK. Lagu-lagu tersebut, Berubah menjadi sederet nama yang dinyanyikan Mustafa dengan suara emasnya, Salah satu diantaranya adalah Chusnunia Chalim Wakil Gubernur Lampung saat ini.

Dalam sidang lanjutan kasus dugaan suap dan gratifikasi di Pengadilan Negeri Tipikor Bandar Lampung, Kamis 4 Maret 2021 lalu, Sosok yang tak pernah absen mengabadikan berbagai moment harian di Instagram Story milik akun pribadi miliknya itu menyampaikan kesaksiannya dihadapan hakim jaksa. Bolak-balik saya putar cuplikan video persidangan, Nampak raut muka Nunik terlihat pucat, Tidak tahu kenapa.

Jika membuka rekam jejak digital, Tidak bisa dunia Maya tutupi apalagi dunia nyata pungkiri, Tidak hanya media lokal bahkan media nasional pun pemberitaan bertebaran terkait hubungan Nunik dan KPK dalam berbagai pusaran kasus korupsi. Siapa tidak menduga alih-alih berfikir liar, Sosok yang nampak lihai itu membuat masyarakat tercengang dan mengundang segudang pertanyaan berbagai pihak termasuk saya secara pribadi bahkan sempat berfikir, Matei kak hibat orang ini.

Dalam persidangan yang berlangsung pada 22 April kemarin, Gak salah-salah Elit PKB Lampung memberanikan diri demi kebenaran mengatakan bahwa DPW pernah adakan rapat pleno bahas soal Dukung Mustafa pada Pilgub Lampung. Hal tersebut disampaikan oleh Okta Rijaya Wakil Ketua DPW PKB Lampung yang juga jadi saksi dalam persidangan. Jika dicermati, artinya serius urusan ini.

Kemudian, Pengakuan mantan Ketua DPD PKB Lampung Tengah, Slamet Anwar yang dipaksa Chusnunia Chalim untuk mengaku telah menerima uang sebesar Rp. 150 juta dan fakta baru yang terungkap dalam persidangan yang berlangsung pada 22 April kemarin dari sopir Midi Iswanto anggota DPRD Lampung, Syaifudin yang secara terang mengatakan bahwa dirinya mengantar uang senilai Rp 1 miliar untuk seorang yang disebut Kanjeng ratu.

Sempat liar berfikir, Saya kira Kanjeng Ratu yang dimaksud ada kaitannya dengan Kanjeng Ratu Kidul dalam cerita masyarakat di pulau Jawa dan Bali itu, Ternyata tidak. Belakangan diketahui, Kanjeng Ratu dimaksud merujuk pada Chusnunia Chalim Ketua DPW PKB Lampung.

Sidang lanjutan kasus yang menimpa Mustafa kemarin lagi-lagi membuat saya tidak bisa Move on dari peristiwa pemblokiran terhadap akun Instagram pribadi milik saya tahun 2019 lalu yang dilakukan oleh akun pribadi milik Wakil Gubernur Lampung itu.

Masih terekam jelas dalam benak saya, Akun pribadi milik saya diblokir setelah saya menyampaikan kritik disalah satu postingan Instagram miliknya. Kritik sengaja disampaikan melalui kolom komentar pada postingan dengan harapan bisa dibaca langsung olehnya.

Kritik sebagai wujud hidupnya demokrasi ditanah Lampung, Saat itu saya bahas mengenai Ultimatum KPK pada November 2019 lalu yang akhirnya Nunik memenuhi Panggilan KPK (Keghabaian Mungkin), Karena ia tidak mengindahkan panggilan lembaga anti rusuah itu yang sempat memanggil dirinya sebagai saksi dugaan korupsi proyek di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Menyandang status sebagai saksi, Bubbai Makko tanding ini memiliki kewajiban hukum dan diharapkan bisa memberikan keterangan secara benar. Saat itu juga saya dkk coba kritisi prilaku orang nomor 2 di Lampung ini yang dianggap tidak patut. Mungkin dia termasuk salah satu pejabat yang elergi dengan kritik, Makanya akun Instagram pribadi saya atasnama Rosim Nyerupa di Blokir olehnya sampai hari ini.

Peristiwa itu cukup membuat saya lelah berfikir. Namun saya menyadari dengan sangat walau sedikit menyesal karena tidak bisa lagi mengikuti perkembangan terkini aktivitas hariannya di Instagram sebab diantara ratusan followers yang ada, Saya termasuk salah satu followers yang cukup setia mengikutinya di Instagram.

Cuitan Mustafa dan pengakuan beberapa orang saksi yang ada, Keterlibatan Wakil Gubernur Lampung itu dalam pusaran kasus korupsi Mustafa telah membuat catatan hitam pada dinding kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan Arinal-Nunik. Meskipun jalan persidangan masih berlangsung panjang dan keterlibatan Nunik dalam kasus tersebut masih didalami tapi bisa saja mempengaruhi Trust masyarakat menurun termasuk trust terhadap Gubernur Lampung Arinal Djunaidi.

Sebagai masyarakat, Saya yakin Kanjeng Arinal sebagai Gubernur Lampung juga merasa was-was terhadap cuitan beberapa saksi bahkan Mustafa sendiri. Was-was bukan karena apa, Jika ending akhirnya Nunik terbukti bersalah dan ditetapkan jadi tersangka akan berdampak terhadap citra baik dirinya sebagai Gubernur Lampung. Sebab, Nunik merupakan tandem Politik yang berpasangan dengannya pada Pilkada 2018 lalu. Pasangan Arinal Nunik berhasil memenangkan Pilkada saat itu dengan perjuangan yang cukup melelahkan apalagi beberapa gerakan pasca Pilkada berlangsung menggugat pasangan tersebut karena diduga telah melakukan kecurangan dan keterlibatan SGC dalam kontestasi Pilgub Lampung dengan sokongan amunisi yang tidak sedikit untuk kandidat tersebut akan tetapi fakta hukum bicara bahwa pasangan Arinal-Nunik dinyatakan tidak bersalah.

Tidak sedikit teman-teman saya berfikir mengatakan, Jika Nunik ditetapkan jadi tersangka, Maka Arinal berpotensi akan diseret-seret juga, Bagi saya itu fikiran liar saja. Namun, Saya berfikir lain dari mereka, Sebab dugaan keterlibatan Nunik dalam pusaran kasus Mustafa suatu perihal yang berbeda. Selain kuat dugaan menerima aliran dana yang diduga hasil gratifikasi proyek dari Mustafa, Nunik juga diduga menghalang-halangi proses penyidikan kesaksian seorang saksi dan sebagai pihak yang disebut-sebut berperan terkait penerimaan uang yang semula dari angka 30 M kemudian berubah menjadi 22 M dan berakhir diangka 18 M sebagai mahar politik agar PKB mendukung Mustafa pada Pilgub Lampung. Namun gagal karena Nunik juga ikut serta dalam kontestasi Pilkada berpasangan dengan Arinal Djunaidi, Akhirnya mahar 18 M yang telah diserahkan Mustafa dikembalikan sebanyak Rp. 14 M lagi ke Mustafa. Sedangkan sisanya sebanyak Rp. 4 M itulah yang ditanya Mustafa dalam persidangan ke Nunik, Mengapa yang tersebut tidak dikembalikannya ke KPK.

Sebagai Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi wajib kita jaga citranya. Ia merupakan simbolnya masyarakat Lampung yang telah menunjukkan kinerja yang baik bagi kemajuan Provinsi Lampung, Jangan sampai konsentrasinya terganggu karena masalah-masalah bawahannya, Sebagai wujud kepedulian tentunya sikap kritis masyarakat adalah salah satu cara terbaik dalam upaya membantu Gubernur mengontrol bawahannya, termasuk mengontrol Wakil Gubernur Lampung. Kita tidak ingin oknum bermasalah berada di lingkaran Gubernur Lampung sehingga bisa merugikan kepemimpinan dalam menjalankan tugas.

Dalam momentum hari Kartini ini, Quote populer habis gelap terbitlah terang nampak cocok kita kursorkan ke Nunik sebagai Kartini-nya Lampung dengan sebutan Kanjeng Ratu.

Kanjeng Ratu dalam strata masyarakat Lampung terbilang tinggi. Keteladanan harus senantiasa dipakai dalam kehidupan bermasyarakat, Karena menjadi panutan segenap keluarga kerabat bahkan masyarakatnya sendiri apalagi seorang pejabat publik.

Berbeda pada masyarakat di Pulau Jawa dan Bali, Kanjeng Ratu melekat pada sosok yang bernama Kanjeng Ratu Kidul. Konon menurut cerita bahwa sosok Kanjeng Ratu Kidul adalah roh suci yang mempunyai sifat mulia dan baik hati, dia berasal dari tingkat langit yang tinggi, pernah turun di berbagai tempat di dunia dengan jati diri tokoh-tokoh suci setempat pada zaman yang berbeda-beda pula. Pada umumnya dia menampakkan diri hanya untuk memberi isyarat / peringatan akan datangnya suatu kejadian penting.

Merujuk dari kedua penggambaran terhadap sifat sosok Kanjeng Ratu di Lampung, Pulau Jawa dan Bali diatas, Semoga Kanjeng Ratu yang disebut dalam sidang lanjutan kasus Mustafa sama sifatnya meski objek dan alur ceritanya berbeda.

Jika kesaksian yang disampaikan beberapa saksi terkait Nunik dalam sidang kasus Mustafa tidak benar menurut Nunik, Bisa saja Nunik mengambil langkah hukum dengan melaporkan mereka kepada pihak berwajib karena selain menyampaikan cerita bohong juga merugikan citra baiknya. Tapi kita lihat Nunik nampak santai saja, Mengapa Nunik tidak melaporkan mereka ke pihak berwajib ? Diamnya Wakil Gubernur itu seolah-olah mengamini apa yang dibeberkan para saksi.

Sebagai masyarakat Lampung, Kita berharap lembaga negara itu bisa memegang teguh independensi dan tidak pandang bulu dalam memberantas korupsi ditanah air termasuk debkolektor partai politik yang bertugas menarik mahar politik disetiap momentum Pilkada seperti yang terjadi dalam Kasus Mustafa yang diduga Nunik terlibat didalamnya. Mampukah KPK dibawah kepemimpinan Irjen Pol. Firli Bahuri menguak dugaan keterlibatan Nunik dalam pusaran kasus Mustafa ?, Dengan segala kerendahan hati, Saya ucapkan pada KPK, Selamat menghadapi Kanjeng Ratu Nunik dengan segala kekuatannya.

Salam,

Rosim Nyerupa, S.IP
Aktivis Muda Lampung

 2,048 total views,  33 views today

Continue Reading

Trending Topic