Connect with us

Opini & Sastra

Cegah Penyebaran COVID-19, Ini Cuitan Netizen Untuk PT. ASDP Bakauheni

Published

on

Hanuang.com – Pandemi COVID-19 atau yang biasa dikenal dengan sebutan Virus Corona, menjadi momok di Dunia terkhusus di wilayah Indonesia.

Daerah Jakarta saat ini menjadi populasi terbanyak yang menjadi korban akan penyebaran COVID-19 ini.

Apakah semua itu penduduk Jakarta ?

Tidak, karena Jakarta merupakan Ibukota dari Indonesia, dimana ada jutaan orang yang berjibaku di daerah yang biasa juga disebut metropolitan itu.

Dari berbagai wilayah menyatu di Jakarta, dengan berbagai tujuan mereka datang, ada yang hanya sekedar jalan-jalan, ada yang bekerja baik sebagai Pegawai, Karyawan Swasta, Buruh, Pelajar, Mahasiswa, dan lainnya untuk mengais rezeki.

Lantas bagaimanakah cara memutus mata rantai penyebaran COVID-19 ini ?

Berbagai cara disosialisasikan oleh pemerintah, mulai dari menerapkan (Perilaku Hidup Bersih & Sehat) PHBS & Lingkungan Bersih Sehat (LBS), serta menghimbau warga untuk mengkarantina mandiri (Isolasi mandiri_red).

Tak hanya itu, Sosial Distancing (Menjaga Jarak_red) pun menjadi salah satu himbauan dari pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran COVID-19. Bahkan sebagian wilayah melalui Pemda masing-masing menghimbau semua jajaran agar melakukan pemantauan terhadap warga yang baru balik ke kampung halaman.

Sebagian Pemerintah Daerah juga, menghimbau kepada warganya untuk tidak melakukan mudik terlebih dahulu, karena penyebaran COVID-19 ini dianggap cepat meningkat dari hal itu juga.

Sedangkan dibeberapa daerah, sudah ada yang membatasi wilayahnya (Lokal Lockdown_red) seperti di Kota Tegal, Tasikmalaya, Papua, serta wilayah lainnya yang mulai memperketat pengamanan dengan menyediakan posko-posko kesehatan bagi para pemudik.

Lantas bagaimana dengan PT. ASDP Indonesia Ferry ?

PT. ASDP Indonesia Ferry merupakan adalah salah satu BUMN di Indonesia yang bergerak dalam jasaangkutan penyeberangan dan pengelola pelabuhan penyeberangan untuk penumpang, kendaraan dan barang. Fungsi utama perusahaan ini adalah menyediakan akses transportasi publik antar pulau yang bersebelahan serta menyatukan pulau-pulau besar sekaligus menyediakan akses transportasi publik ke wilayah yang belum memiliki penyeberangan guna mempercepat pembangunan (penyeberangan perintis).

Di Provinsi Lampung, tepatnya di Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel), PT. ASDP Indonesia Ferry menjadi salah satu alternatif bagi para masyarakat untuk melakukan penyebrangan lintas pulau.

Banyak kecemasan dari masyarakat sekitar terkait COVID-19, karena meningkatnya angka ODP akibat dari banyak pemudik yang sudah curi start terlebih dahulu pulang dari tanah rantauan ke kampung halaman.

Apakah semua penumpang di cek kesehatan oleh pihak PT. ASDP Indonesia Ferry Merak-Bakauheni ?

Banyak rumor beredar bahwa diantara kedua pelabuhan penyeberangan itu dianggap kurang sigap dalam penanganan COVID-19. Bagaimana tidak, banyak penumpang mulai dari pejalan kaki, kendaraan roda dua, roda empat, bus, truck, fuso, dan lainnya sempat terlewatkan oleh pihak kesehatan di ASDP Bakauheni.

Hal itu dibuktikan langsung oleh Plt. Bupati Lampung Selatan, Nanang Ermanto, dengan bertanya kepada penumpang terkait pemeriksaan kesehatan. Bahkan Nanang sapaan akrabnya sempat marah-marah kepada pihak ASDP Bakauheni agar memperketat keamanan kesehatan terkaid COVID-19.

Dianggap lalainya pihak PT. ASDP Bakauheni ini juga, terlihat dari beberapa pemudik yang ditemui di desa-desa dan mengungkapkan bahwa mereka tidak diperiksa kesehatannya di pelabuhan Bakauheni.

Bahkan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Lamsel, sempat menghimbau agar PT. ASDP Bakauheni memperkuat dan perketat pemeriksaan kesehatan.

https://hanuang.com/terkesan-kurang-sigap-atasi-corona-nanang-marah-dengan-jajaran-pt-asdp-bakauheni/

https://www.google.com/amp/s/m.lampost.co/amp/idi-minta-pemeriksaan-di-pelabuhan-bakauheni-diperketat.html

Kapan Waktunya Pemudik Ini Pulang Dan Curi Start ?

Para pemudik yang curi start ini biasanya secara pribadi dan massal alias bergerombol, ada yang pulang di pagi/siang/sore hari. Namun banyak juga yang menggunakan momen di malam hari dengan mencuri kelalaian petugas kesehatan.

Lantas apakah langkah positif yang dianggap bisa memutus mata rantai penyebaran COVID-19 ini, meskipun Polres & Pemkab Lamsel telah berkali-kali melakukan penyemprotan disinfektan di pelabuhan tersebut.

Di Kabupaten yang berjuluk gerbang sumatera ini, semua jajaran dari tingkat atas hingga kebawah terus melakukan penyemprotan disinfektan demi mencegah penyebaran COVID-19.

Namun terlihat kekompakan tingkat maksimal itu berada di kalangan bawah, yakni di desa-desa, melalui aparatur pemerintahan desa (Pemdes) terus aktif dan giat melakukan penyemprotan disinfektan.

Presiden RI, Ir. Joko Widodo menjelaskan bahwa Dana Desa (DD) melalui Surat Edaran (SE) dari Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) RI Nomor 8 Tahun 2020, dapat digunakan untuk pencegahan COVID-19. Akan tetapi, masih banyak Kades di Lamsel yang takut menggunakan dana desa, dikarenakan khawatir dianggap temuan oleh pihak Inspektorat, karena belum ada kebijakan yang turun dari Pemkab setempat.

Redaksi http://www.hanuang.com mengambil sampel dengan menghimpun cuitan dari netizen di Facebook, untuk meminta tanggapan terkait langkah apa yang harus diambil dalam memutus mata rantai penyebaran COVID-19 di Lampung terkhusus di Lampung Selatan.

Ini Cuitan Netizen dan nama akun fbnya :

1. Rizki Gilang

Klu menurut saya sich ,dari pihak pt asdp merak bkau heni harus melakukan penutupan semntara krn kita tdk tau mereka yg pulang kampung itu trkena virus atau tdak nya klu pun mereka sudah di priksa di plbhan bkau heni kan bisa saya mreka trkena di saat di dlm bus ,jdi untuk sementara buat saudra2 yg msih di rantauan jgan dulu plg mudik

2. Pangkas Rambut Jnd

Untuk Pt asdp.. Saran kami adalahSetiap penumpang yang ingin pulang kampung /mudik Harus membawa Keterangan Kesehatan Dari Rumah sakit.Menyatakan bahwa bebas dari covid 19. Itu sarat pertama. Kedua. Pihak armada kapal harus setiap Jam peyemprotan dalam kabin dll. Ketiga. Udah di lakukan peyeterilisasi peyemprotan penumpang. Barang. Dan tes suhu badan.. 
Mungkin ini saja saran saya.. Terimakasih

3. Aden Sanjaya Hasanuddin

Perketat pengawasan pada setiap kendaraan dan penumpang umum bila ada nampak gejala yg menghawatirkan langsung di aman kan serahkan penanganan nya pada tim medis bila perlu  dirikan rumah sakit darurat covid 19 di pelabihan bakauheni

4. Lon Lon Asal Kelakon

Harus di perketat selallu awasi setiap penumpang yang berdatangan .Kalau bisa adakan cek priksa geratis  pelabuhan .Dan untuk di pelabuhan merak tolong di fokuskan cek setiap penumpang maupun pemudik  karna di merak kurang pengawasan .Kala bisa si ya fokuskan di pelabuhan merak .

5. Saung Gahana

Menurut saya untuk pemudik di of…

6. Sumarlina

Menurut saya untuk sementara di tutup untuk pemudik,kecuali pengiriman logistik,krna kalau di biarkan bisa” Semua daerah akan terkena dampak nya virus itu

7. Nasrun Sulaiman

Kl menurut sy di maximalkan pengecekan suhu tubuh dan penyemprotan disinfektan pd pemudik dan barang bawaan baik saat mau masuk pelabuhan/kapal atau saat meninggalkan pelabuhan/kapal…

8. Indra Arfan

Mungkin sebaik Tutup sementara untuk memutuskan mata Rantai.. apabila harus tetap di buka Pihak Pelabuhan Dan Pemerintah Harus Extra Ketat dengan Para Penumpang yang baru tiba atau yg akan menyebrang

9. Fitron

pemeriksaan ketat, denger2 kan ada alat yg cepet mendeteksi virus, nah setiap penumpang harus diperiksa pakai itu, adapun biyayanya ya dibebankan ke penumpang, resiko lah kan udah dihimbau jangan mudik masih ngeyel, Misal biyaya 50 rbu, tinggal tambahin harga tiket berapa

10. Aziz Irawan

menurut saya…lockdown aja merak-bakau…

11. Baim Dfsk

Utk smentara ASDP lockdown smpai keadaan teratasi..

12. Oktaviani Sa Putri

Menurut saya PT. ASDP tetap beroperasi dg memperketat pengawasan dipelabuhan.seperti memberikan masker kepada pengguna jasa dipelabuhan,mengecek suhu badan dan menempatkan beberapa hand sanitizer baik dikapal maupun diluar pelabuhan…dan juga kerja samanya bagi orang” yg ada dilingkungan pelabuhan,terkhusus penumpang krna harus mengikuti aturan yg diadakan PT ASDP disaat pemeriksaan lebih teratur dan tidak terjadi antrian penumpang….

Penulis : Farihan SH

 1,615 total views,  4 views today

Lampung Selatan

Ini 14 Poin Yang Menyebabkan Festival Kalianda 2019 Kurang Meriah

Published

on

By

Hanuang.com – berikut beberapa fakta Festival Kalianda 2019 menurut penilaian dari Redaksi Hanuang yang dianggap sangat jauh berbeda dan kurang meriah dengan tahun sebelumnya, Senin, (15/07/19).

1. Kurangnya Sosialisasi

Banyak masyarakat luas dari kalangan menengah kebawah yang tidak mengetahui gaung dari rangkaian acara Festival Kalianda 2019. Karena diduga kurangnya sosialisasi dari Dinas terkait menyebabkan gaung Festival Kalianda tidak menggema hingga pelosok Lamsel.

2. Kurangnya Publikasi

Rekanan atau partner dari media yang tidak falid dan kurangnya publikasi dari media online, cetak, maupun elektronik yang menyebabkan gaung dan rangkaian Festival Kalianda 2019 tidak menggema di wilayah Lamsel. Bahkan banyak media yang mempertanyakan anggaran MOU yang terkesan tertutup dan berbeda nilai satu sama lainnya. Selain itu rangkaian atau Rundown acara hanya berada dikalangan internal saja, sehingga banyak media yang tidak mengetahuinya.

3. Perwakilan Lomba Lagu Daerah Diduga Tak Jelas

Perwakilan lagu daerah banyak yang tidak jelas, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lamsel menuliskan pemenang merupakan perwakilan SMA atau SMK ternama di Lamsel, akan tetapi, faktanya ada peserta dan juara sendiri bingung, karena merasa tidak pernah mewakili sekolah yang ditunjuk, bahkan tidak ada kontribusi karena peserta ada yang mendaftarkan diri secara pribadi.

4. Touring Bike Yang Terkesan Memaksakan Rute

Rute atau jarak tempuh bagi peserta touring bike dianggap terlalu jauh sehingga banyak terlihat para peserta yang kelelahan. Seperti di Desa Kunjir, peserta ramai menaikkan sepedanya ke mobil dan melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan. Sebelumnya terkait rute tersebut sempat dibahas oleh peserta dalam rapat yang digelar dilingkup Pemkab Lamsel.

5. Sampah Yang Berserakan

Banyak masyarakat yang mengunjungi wisata kuliner dermaga Bom menilai usai acara Touring Bike meninggalkan sampah dimana-mana. Padahal setiap minggunya pihak Kecamatan Kalianda selalu bersih-bersih dan menghimbau agar tidak membuang sampah sembarangan dilokasi tersebut yang terkenal dengan Program GEBER (Gerakan Bersih-Bersih) namun panitia terkesan acuh.

6. Cuaca Yang Tak Menentu

Cuaca tak terduga merupakan salah satu penyebab tak meriahnya rangkaian Festival Kalianda 2019, terlihat dari acara Grand Final Pemilihan Muli Mekhanai, dimana ditengah acara hujan deras dicampur petir mengguyur yang membubarkan para penonton dalam ajang tersebut.

7. Banyaknya Seniman Lokal Atau Penggiat Wisata Tak Dilibatkan

Banyak penggiat seni atau seniman lokal yang merasa tidak dilibatkan dalam acara tersebut, padahal menurut mereka, pihaknya dapat memberikan sumbangsih saran untuk kemajuan pariwisata dan budaya dalam ajang Festival Kalianda 2019 tersebut.

8. Anggaran Yang Tidak Jelas

Anggaran dianggap tidak jelas karena banyak kawan-kawan media tidak mengetahuinya, jadi terkesan anggaran tersebut terlalu sedikit atau terlalu tertutup, diduga sebelumnya pihak Dinas terkait telah melakukan pemborosan anggaran akibat salahnya pencetakan Banner yang sudah tersebar di wilayah Lampung. Dimana banner yang dipasang merupakan gambar Bupati Lamsel Nanang Ermanto yang menggunakan Topi Adat (Kikat) bukan Khas Lamsel atau dari luar daerah. Padahal ajang Festival Kalianda 2019 merupakan kegiatan tahunan daripada Kabupaten Lamsel.

9. Kurangnya Koordinasi Dengan Pemuda

Pemuda merupakan salah satu ujung tombak pembangunan, baik dari segi pembangunan wisata dan budaya, dalam ajang Festival Kalianda 2019, banyak pemuda yang tidak terlibat, contohnya saja organisasi milik Pemerintah (Plat Merah_red) seperti Karang Taruna dan KNPI yang terkesan tidak dilibatkan sama sekali. Apalagi pihak panitia mau melibatkan Ormas ataupun LSM serta Pokdarwis yang ada di Lamsel jika OKP milik Pemerintah saja diabaikan.

10. Masyarakat Lokal Yang Terkesan Acuh

Masyarakat lokal yang terkesan acuh dan kurangnya kesadaran terhadap Festival Kalianda 2019 dimana masyarakat kurang peduli dan memandang kegiatan tersebut merupakan Ceremonial dari Pemerintah setempat saja. Selain itu kesibukan dan aktifitas masyarakat sehari-hari dalam bekerja dan berusaha menjadikan mereka abai akan kegiatan yang ada di wilayahnya.

11. Muncul Pelaku Ujaran Kebencian

Berbeda dengan tahun sebelumnya, Festival Kalianda 2019 kali ini memunculkan pelaku ujaran kebencian, dimana ujaran kebencian tersebut ditimbukan oleh Netizen dari Media Sosial (Facebook) terkait pemberitaan mengenai sampah yang berserakan usai acara Touring Bike, akibat perbuatannya, pelaku mendapatkan kecaman dari lembaga wartawan ataupun organisasi wartawan yang ada di Lamsel yakni Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lamsel, Jurnalis Siber Komuniti (JUSI) Lamsel, serta Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Lamsel. Pelaku sempat akan dilaporkan kepada pihak berwajib (Ranah Hukum) dengan dugaan Ujaran Kebencian, yang berakhir dengan pelaku meminta maaf kepada perwakilan organisasi wartawan di Lamsel.

12. Event Pawai Budaya Memakan Korban

Dalam acara pawai budaya yang digelar di lapangan Cipta Karya memakan korban, seorang bocah diduga mengalami patah kaki dalam berebut makanan otak-otak yang disediakan panitia, bahkan orang tua korban harus marah-marah dan mengamuk diatas panggung menggunakan pengeras suara, meminta kendaraan ambulan untuk membantu anaknya dengan mengantarkan ke RSUD setempat.

13. Tak Ada Perwakilan Duta Besar

Sungguh berbeda dengan tahun sebelumnya, dimana dalam Festival Kalianda 2019 tak lagi menampilkan perwakilan Duta Besar dari berbagai negara. Padahal sebelumnya, saat Festival Krakatau 2018, sebanyak 8 Dubes dari Perwakilan Negara Sahabat datang mengunjungi.

14. Hilangnya Lomba Fotografi & Video Blog

Lomba terkait gambar dan video yang menceritakan atau mengeksplorasi wisata dan adat budaya yang ada di Lampung Selatan kini sudah hilang dari rangkaian Festival Kalianda 2019. Sebelumnya lomba tersebut sempat digaungkan dalam Festival Krakatau 2018 dengan Tema The Real Of Krakatoa.

Berbagai Link Media Terkait Festival Kalianda 2019 yang dianggap kurang menarik dan menurun drastis dari tahun sebelumnya :

https://lampung.tribunnews.com/2019/07/08/warga-nilai-festival-kalianda-tidak-semarak

https://hanggumpost.com/2019/07/kurang-greget-masyarakat-sekitar-dermaga-bom-kalianda-tidak-tahu-ada-kegiatan-touring-bike.html

https://hanggumpost.com/2019/07/malam-final-muli-mekhanai-lamsel-2019-tata-panggung-terkesan-dadakan.html

https://hanggumpost.com/2019/07/banyak-bangku-kosong-acara-lomba-lagu-daerah-lampung-kurang-meriah.html

*KAPI Sebut Festival Kalianda 2019 Terkesan Tertutup* http://bidikkasus.id/detailpost/kapi-sebut-festival-kalianda-2019-terkesan-tertutup

http://searchernews.com/2019/07/09/kapi-festival-kalianda-tahun-2019-minim-sosialisasi-dan-promosi/

https://hanggumpost.com/2019/07/hujan-campur-petir-penonton-muli-mekhanai-bubar-jalan.htm

→ https://www.kaliandanews.com/2019/07/usai-touring-bike-festival-kalianda.html

https://hanuang.com/pwi-smsi-dan-jusi-kecam-netizen-yang-menghina-tugas-wartawan-di-lamsel/

→ https://www.kaliandanews.com/2019/07/ini-kritik-pedas-seniman-lokal-terkait.html

Selain itu, berikut daftar Kritisi yang berhasil dirangkum oleh www.hanuang.com saat menggelar tanya jawab mengenai kemeriahan Festival Kalianda 2019 :

Ketua Umum Ormas GML (Rizal Anwar)

“Intinya apapun kegiatan di Lampung selatan harapan saya coba diberi contoh buat kabupaten yang lain, Kitakan kota yang paling tua apalagi Lampung selatan serambi Sumatra jangan kita yang mencontoh mereka, oke Itu harapan masyarakat menuju Lampung selatan maju” ujarnya.

Anggota DPRD Terpilih Provinsi Lampung Asli Putra Daerah Lamsel (Nurul Ikhwan)

“Harus lebih inovatif dalam setiap pelaksanaan kegiatan bukan hanya sekedar seremonial saja tapi tidak memberikan dampak besar bagi pariwisata lamsel dan membangun brand yang kuat bagi kegiatan festival sehingga mendatangkan banyak pengunjung bukan hanya dari lamsel tapi juga dari luar lamsel serta dari luar lampung dan selalu menjaga kebersihan kegiatan sebagai upaya edukasi kepada masyarakat dan memberikan keamanan dan kenyamanan bagi pengunjung sehingga tidak terjadi kecelakaan yang akan menimbulkan dampak buruk, ajak seluruh komponen yang ada untuk membangun brand festival termasuk didalamnya mengundang konsultan pariwisata berskala internasional untuk memberikan dampak yang besar bagi sektor pariwisata di lamsel dan terakhir adalah evaluasi dinas pariwisata lamsel karena ujung tombak kemajuan pariwisata di lamsel ada di dinas pariwisata dan bertahun – tahun yg dilakukan hanya kegiatan itu-itu saja tapi tidak memberikan dampak yang besar yang seharusnya sektor pariwisata jadi ujung tombak PAD yg kemudian meningkatkan perekonomian masyarakat yg ada di tempat-tempat wisata” ungkapnya.

Musisi Lokal (Iwan J. Sastra)

salah satu musisi lokal dan sekaligus seniman Lampung selatan ini menjelaskan pagelaran Lomba Solo Song yang sudah digelar pada Sabtu (6/7) kemarin, juga kurang maksimal dan monoton.

“Sejauh ini kita perhatikan lomba menyanyi tidak ada inovasi. Harusnya diberi kesempatan untuk para seniman lokal untuk berkontribusi. Terutama para seniman Muda yang memiliki hobi bermusik, dan juga libatkan yang memang sudah pernah bermitra dengan dinas pariwisata,” bebernya.

“Lampung Selatan juga punya Dekranasda. Hal itu bisa diberdayakan dengan diadakannya pameran berbagai kerajinan lokal. Mungkin pengunjung akan ramai, inikan festival kalianda jadi harus menghidupkan hal yang ada di Kalianda. Kita juga punya beberapa rumah adat dan itu bisa menjadi rujukan untuk para peserta muli mekhanai lebih mengenal lagi budaya dan peninggalan serta sejarah lampung selatan,” Tandasnya.

Himals selaku Perwakilan Mahasiswa (Ujang Abdul Aziz)

“Pada dasarnya adanya festifal Kalianda bertujuan untuk melestarian budaya dengan revitalisasi budaya (penguatan) yang dibalut seremonial acara. Namun hari ini yang perlu menjadi catatan pemerintah daerah harusnya melibatkan mahasiswa sebagai akademisi yang bisa memberikan sumbangsih pemikiran, konsep, dan inovasi sebagai langkah kongkrit  dalam membangun dan meningkatkan kualitas pariwisata kita di lampung selatan. Mahasiswa banyak berperan aktif namun justru pemerintah daerah lebih suka memberdayaakan masyarakan luar daerah ketimbang masyarakat lokal. Salah satu contoh menumpang di acara Mahasiswa Unila. Karna ke aslian itu penting karna pada akhirnya masyarakat lokal lah yang akan mengelola dan menjaganya” tandasnya.

Perwakilan Pemuda/Karang Taruna Lamsel (Erdiansyah)

“Pada dasarnya Festival Kalianda lancar dan cukup sukses menghibur, hanya saja perlu perbaikan disana-sini terutama pelibatan masyarakat dan promosi wisatawan domestik/mancanegara disetiap event yang harus digencarkan, kalau perlu tv Nasional untuk promosi sperti ditempat lain tour de singkarak, wakatobi, jember fest dan lainnya. Dengan kemasan dan inovasi kgiatan yang lebih menarik dan unik, selain itu dihadirkan artis yang lebih terkenal, secara teknis tiap event dtingkatkan kualitas sound/tatacahaya yang lebih maksimal, keamanannya dan tim kesehatan event yang lebih sigap, secara kseluruhan sukses.” jelasnya.

Perwakilan LSM KAPI (Dedi Manda)

Kurang maksimalnya kegiatan yang diselenggarakan, sebab banyak warga masyarakat yang tidak tahu terkait kegiatan tersebut. Bahkan kegiatannya pun terkesan dipaksakan, padahal kita sama-sama mengetahui kalau festival kalianda adalah agenda tahunan tingkat kabupaten yang diselenggarakan terpusat di kota kabupaten. Seharusnya ini menadi hiburan sekaligus ajang promosi baik dari bidang ekonomi sosial dan budaya. Tapi kegiatan yang diselenggarakan terkesan dipaksakan sebab tidak terdapat capaian yang kongkrit (kemajuan dari tahun sebelumnya) Kegiatan yang semestinya menjadi hajat semua lapisan elemen masyarakat justru berbalik, seperti pesta para elit birokrat. Mungkin kurangnya sosialisasi, atau konsep yang terkesan dipaksakan dan lainnya. Atau mungkin karena minim anggaran. Sebab tidak banyak yang tahu terkait besaran anggaran, Mungkin acara puncak akan lebih baik jika dibuat agenda do’a bersama agar lampung selatan lebih baik dan bersih dari koruptor” tutupnya. (Arya)

 5,181 total views,  5 views today

Continue Reading

Luar Daerah

Yuk Kenali Secara Dekat Profil & Sosok Paspampres Cantik Serda Ambar

Published

on

By

Keterangan Gambar : Foto Serda Ambar Diambil Dari Salah Satu Website Yang Ada Di Google

Hanuang.com – Banyak yang kaget dan terpesona dengan sosok gadis ini. Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) bernama Sersan Dua TNI Angkatan Laut. Ambar Dwi Klaudiyah ini sosoknya banyak mencuri perhatian disaat dirinya sedang mengawal Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo.

Serda Ambar memang berparas cantik dan rupawan dengan rambut terurai hingga kebahu. Mengenal lebih jauh tentang sosok Ambar, sejak kecil Dia memang bercita-cita ingin jadi seorang Polwan. Sayangnya setelah lulus SMA Ambar gagal lolos seleksi Polwan.

Dia sempat mengenyam ilmu pendidikan di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Jurusan Akutansi selama satu tahun. Serda Ambar lalu mencoba mengikuti seleksi penerimaan Angkatan Laut di Tahun 2015 , dan berhasil diterima dan menjalani Pendidikan Angkatan Laut.

Sebelum menjadi Anggota Paspampres, Serda Ambar bertugas di Bidang kesehatan TNI Angkatan Laut RE Martadinata. Setelah menjalani Pembekalan/Standarisasi selama 1,5 tahun Ambar dinyatakan lulus menjadi Anggota Paspampres Grop A yang bertugas mengawal Presiden RI.

Disisi lain Ambar merupakan gadis yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Hal itu terbukti dengan perilakunya yang tetap membantu ibunya berjualan sayur saat cuti dan pulang kampung.

Ambar lahir di Sidoarjo, 29 Oktober 22 tahun silam. Saat ditanya soal keluarga sangat bersemangat menceritakan pekerjaan ayah dan ibunya.

“Bapak saya seorang pengepul barang bekas, jadi dari pemulung dikumpulkan ke Bapak, nanti Bapak yang jual lagi. Kalau lbu saya jualan sayur keliling kampung,” kata Ambar.

“Ketika balik ke rumah, saya sering membantu ibu belanja ke pasar setiap jam 1 pagi. Lalu ikut berjualan di depan rumah, nanti kalau sayurnya belum habis terjual baru lbu keliling naik motor. Sampai sekarang juga masih jualan sayur,” jelasnya.

Saat ditanya soal saat Paspampres, Serda Ambar menjelaskan pekerjaan saya sekarang jauh lebih berat dibandingkan saat saya masih bertugas di bagian kesehatan TNI Angkatan Laut.

“Saya harus mempelajari ilmu bela diri dan latihan fisik yang cukup berat. Tantanganya sangat banyak, tapi saya sangat bersyukur dan senang bisa menjadi Pengawal Presiden” tutupnya. (Arya)

Penulis : A Chin

Editor : Muhammad Arya Malikul Mulki

 2,681 total views,  5 views today

Continue Reading

Trending Topic