Connect with us

Opini & Sastra

Cegah Penyebaran COVID-19, Ini Cuitan Netizen Untuk PT. ASDP Bakauheni

Published

on

Hanuang.com – Pandemi COVID-19 atau yang biasa dikenal dengan sebutan Virus Corona, menjadi momok di Dunia terkhusus di wilayah Indonesia.

Daerah Jakarta saat ini menjadi populasi terbanyak yang menjadi korban akan penyebaran COVID-19 ini.

Apakah semua itu penduduk Jakarta ?

Tidak, karena Jakarta merupakan Ibukota dari Indonesia, dimana ada jutaan orang yang berjibaku di daerah yang biasa juga disebut metropolitan itu.

Dari berbagai wilayah menyatu di Jakarta, dengan berbagai tujuan mereka datang, ada yang hanya sekedar jalan-jalan, ada yang bekerja baik sebagai Pegawai, Karyawan Swasta, Buruh, Pelajar, Mahasiswa, dan lainnya untuk mengais rezeki.

Lantas bagaimanakah cara memutus mata rantai penyebaran COVID-19 ini ?

Berbagai cara disosialisasikan oleh pemerintah, mulai dari menerapkan (Perilaku Hidup Bersih & Sehat) PHBS & Lingkungan Bersih Sehat (LBS), serta menghimbau warga untuk mengkarantina mandiri (Isolasi mandiri_red).

Tak hanya itu, Sosial Distancing (Menjaga Jarak_red) pun menjadi salah satu himbauan dari pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran COVID-19. Bahkan sebagian wilayah melalui Pemda masing-masing menghimbau semua jajaran agar melakukan pemantauan terhadap warga yang baru balik ke kampung halaman.

Sebagian Pemerintah Daerah juga, menghimbau kepada warganya untuk tidak melakukan mudik terlebih dahulu, karena penyebaran COVID-19 ini dianggap cepat meningkat dari hal itu juga.

Sedangkan dibeberapa daerah, sudah ada yang membatasi wilayahnya (Lokal Lockdown_red) seperti di Kota Tegal, Tasikmalaya, Papua, serta wilayah lainnya yang mulai memperketat pengamanan dengan menyediakan posko-posko kesehatan bagi para pemudik.

Lantas bagaimana dengan PT. ASDP Indonesia Ferry ?

PT. ASDP Indonesia Ferry merupakan adalah salah satu BUMN di Indonesia yang bergerak dalam jasaangkutan penyeberangan dan pengelola pelabuhan penyeberangan untuk penumpang, kendaraan dan barang. Fungsi utama perusahaan ini adalah menyediakan akses transportasi publik antar pulau yang bersebelahan serta menyatukan pulau-pulau besar sekaligus menyediakan akses transportasi publik ke wilayah yang belum memiliki penyeberangan guna mempercepat pembangunan (penyeberangan perintis).

Di Provinsi Lampung, tepatnya di Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel), PT. ASDP Indonesia Ferry menjadi salah satu alternatif bagi para masyarakat untuk melakukan penyebrangan lintas pulau.

Banyak kecemasan dari masyarakat sekitar terkait COVID-19, karena meningkatnya angka ODP akibat dari banyak pemudik yang sudah curi start terlebih dahulu pulang dari tanah rantauan ke kampung halaman.

Apakah semua penumpang di cek kesehatan oleh pihak PT. ASDP Indonesia Ferry Merak-Bakauheni ?

Banyak rumor beredar bahwa diantara kedua pelabuhan penyeberangan itu dianggap kurang sigap dalam penanganan COVID-19. Bagaimana tidak, banyak penumpang mulai dari pejalan kaki, kendaraan roda dua, roda empat, bus, truck, fuso, dan lainnya sempat terlewatkan oleh pihak kesehatan di ASDP Bakauheni.

Hal itu dibuktikan langsung oleh Plt. Bupati Lampung Selatan, Nanang Ermanto, dengan bertanya kepada penumpang terkait pemeriksaan kesehatan. Bahkan Nanang sapaan akrabnya sempat marah-marah kepada pihak ASDP Bakauheni agar memperketat keamanan kesehatan terkaid COVID-19.

Dianggap lalainya pihak PT. ASDP Bakauheni ini juga, terlihat dari beberapa pemudik yang ditemui di desa-desa dan mengungkapkan bahwa mereka tidak diperiksa kesehatannya di pelabuhan Bakauheni.

Bahkan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Lamsel, sempat menghimbau agar PT. ASDP Bakauheni memperkuat dan perketat pemeriksaan kesehatan.

https://hanuang.com/terkesan-kurang-sigap-atasi-corona-nanang-marah-dengan-jajaran-pt-asdp-bakauheni/

https://www.google.com/amp/s/m.lampost.co/amp/idi-minta-pemeriksaan-di-pelabuhan-bakauheni-diperketat.html

Kapan Waktunya Pemudik Ini Pulang Dan Curi Start ?

Para pemudik yang curi start ini biasanya secara pribadi dan massal alias bergerombol, ada yang pulang di pagi/siang/sore hari. Namun banyak juga yang menggunakan momen di malam hari dengan mencuri kelalaian petugas kesehatan.

Lantas apakah langkah positif yang dianggap bisa memutus mata rantai penyebaran COVID-19 ini, meskipun Polres & Pemkab Lamsel telah berkali-kali melakukan penyemprotan disinfektan di pelabuhan tersebut.

Di Kabupaten yang berjuluk gerbang sumatera ini, semua jajaran dari tingkat atas hingga kebawah terus melakukan penyemprotan disinfektan demi mencegah penyebaran COVID-19.

Namun terlihat kekompakan tingkat maksimal itu berada di kalangan bawah, yakni di desa-desa, melalui aparatur pemerintahan desa (Pemdes) terus aktif dan giat melakukan penyemprotan disinfektan.

Presiden RI, Ir. Joko Widodo menjelaskan bahwa Dana Desa (DD) melalui Surat Edaran (SE) dari Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) RI Nomor 8 Tahun 2020, dapat digunakan untuk pencegahan COVID-19. Akan tetapi, masih banyak Kades di Lamsel yang takut menggunakan dana desa, dikarenakan khawatir dianggap temuan oleh pihak Inspektorat, karena belum ada kebijakan yang turun dari Pemkab setempat.

Redaksi http://www.hanuang.com mengambil sampel dengan menghimpun cuitan dari netizen di Facebook, untuk meminta tanggapan terkait langkah apa yang harus diambil dalam memutus mata rantai penyebaran COVID-19 di Lampung terkhusus di Lampung Selatan.

Ini Cuitan Netizen dan nama akun fbnya :

1. Rizki Gilang

Klu menurut saya sich ,dari pihak pt asdp merak bkau heni harus melakukan penutupan semntara krn kita tdk tau mereka yg pulang kampung itu trkena virus atau tdak nya klu pun mereka sudah di priksa di plbhan bkau heni kan bisa saya mreka trkena di saat di dlm bus ,jdi untuk sementara buat saudra2 yg msih di rantauan jgan dulu plg mudik

2. Pangkas Rambut Jnd

Untuk Pt asdp.. Saran kami adalahSetiap penumpang yang ingin pulang kampung /mudik Harus membawa Keterangan Kesehatan Dari Rumah sakit.Menyatakan bahwa bebas dari covid 19. Itu sarat pertama. Kedua. Pihak armada kapal harus setiap Jam peyemprotan dalam kabin dll. Ketiga. Udah di lakukan peyeterilisasi peyemprotan penumpang. Barang. Dan tes suhu badan.. 
Mungkin ini saja saran saya.. Terimakasih

3. Aden Sanjaya Hasanuddin

Perketat pengawasan pada setiap kendaraan dan penumpang umum bila ada nampak gejala yg menghawatirkan langsung di aman kan serahkan penanganan nya pada tim medis bila perlu  dirikan rumah sakit darurat covid 19 di pelabihan bakauheni

4. Lon Lon Asal Kelakon

Harus di perketat selallu awasi setiap penumpang yang berdatangan .Kalau bisa adakan cek priksa geratis  pelabuhan .Dan untuk di pelabuhan merak tolong di fokuskan cek setiap penumpang maupun pemudik  karna di merak kurang pengawasan .Kala bisa si ya fokuskan di pelabuhan merak .

5. Saung Gahana

Menurut saya untuk pemudik di of…

6. Sumarlina

Menurut saya untuk sementara di tutup untuk pemudik,kecuali pengiriman logistik,krna kalau di biarkan bisa” Semua daerah akan terkena dampak nya virus itu

7. Nasrun Sulaiman

Kl menurut sy di maximalkan pengecekan suhu tubuh dan penyemprotan disinfektan pd pemudik dan barang bawaan baik saat mau masuk pelabuhan/kapal atau saat meninggalkan pelabuhan/kapal…

8. Indra Arfan

Mungkin sebaik Tutup sementara untuk memutuskan mata Rantai.. apabila harus tetap di buka Pihak Pelabuhan Dan Pemerintah Harus Extra Ketat dengan Para Penumpang yang baru tiba atau yg akan menyebrang

9. Fitron

pemeriksaan ketat, denger2 kan ada alat yg cepet mendeteksi virus, nah setiap penumpang harus diperiksa pakai itu, adapun biyayanya ya dibebankan ke penumpang, resiko lah kan udah dihimbau jangan mudik masih ngeyel, Misal biyaya 50 rbu, tinggal tambahin harga tiket berapa

10. Aziz Irawan

menurut saya…lockdown aja merak-bakau…

11. Baim Dfsk

Utk smentara ASDP lockdown smpai keadaan teratasi..

12. Oktaviani Sa Putri

Menurut saya PT. ASDP tetap beroperasi dg memperketat pengawasan dipelabuhan.seperti memberikan masker kepada pengguna jasa dipelabuhan,mengecek suhu badan dan menempatkan beberapa hand sanitizer baik dikapal maupun diluar pelabuhan…dan juga kerja samanya bagi orang” yg ada dilingkungan pelabuhan,terkhusus penumpang krna harus mengikuti aturan yg diadakan PT ASDP disaat pemeriksaan lebih teratur dan tidak terjadi antrian penumpang….

Penulis : Farihan SH

 2,664 total views,  3 views today

Bandar Lampung

Menguji Taji KPK Hadapi Kanjeng Ratu Nunik Dalam Pusaran Kasus Mustafa

Published

on

By

Hanuang.com – Mustafa adalah sosok publik figur yang tidak hanya cakap berbicara dengan mic dihadapan masyarakat tetapi juga pintar melantunkan lagu dengan suara emas yang menjadi ciri khasnya. Terbilang cukup paling energik diantara Kepala Daerah yang ada di Lampung saat itu, Lebih-lebih nama Mustafa semakin mengudara diberbagai penjuru Lampung pasca dirinya memutuskan untuk ikut serta dalam kontestasi pemilihan Gubernur tahun 2018 lalu.

Namun lagu-lagu kesayangan yang kerap didengar publik dengan suara emasnya baik sewaktu menjabat Bupati Lampung Tengah maupun momentum kampanye pada Pemilihan Gubernur waktu itu kini berubah pasca dirinya terkena OTT KPK. Lagu-lagu tersebut, Berubah menjadi sederet nama yang dinyanyikan Mustafa dengan suara emasnya, Salah satu diantaranya adalah Chusnunia Chalim Wakil Gubernur Lampung saat ini.

Dalam sidang lanjutan kasus dugaan suap dan gratifikasi di Pengadilan Negeri Tipikor Bandar Lampung, Kamis 4 Maret 2021 lalu, Sosok yang tak pernah absen mengabadikan berbagai moment harian di Instagram Story milik akun pribadi miliknya itu menyampaikan kesaksiannya dihadapan hakim jaksa. Bolak-balik saya putar cuplikan video persidangan, Nampak raut muka Nunik terlihat pucat, Tidak tahu kenapa.

Jika membuka rekam jejak digital, Tidak bisa dunia Maya tutupi apalagi dunia nyata pungkiri, Tidak hanya media lokal bahkan media nasional pun pemberitaan bertebaran terkait hubungan Nunik dan KPK dalam berbagai pusaran kasus korupsi. Siapa tidak menduga alih-alih berfikir liar, Sosok yang nampak lihai itu membuat masyarakat tercengang dan mengundang segudang pertanyaan berbagai pihak termasuk saya secara pribadi bahkan sempat berfikir, Matei kak hibat orang ini.

Dalam persidangan yang berlangsung pada 22 April kemarin, Gak salah-salah Elit PKB Lampung memberanikan diri demi kebenaran mengatakan bahwa DPW pernah adakan rapat pleno bahas soal Dukung Mustafa pada Pilgub Lampung. Hal tersebut disampaikan oleh Okta Rijaya Wakil Ketua DPW PKB Lampung yang juga jadi saksi dalam persidangan. Jika dicermati, artinya serius urusan ini.

Kemudian, Pengakuan mantan Ketua DPD PKB Lampung Tengah, Slamet Anwar yang dipaksa Chusnunia Chalim untuk mengaku telah menerima uang sebesar Rp. 150 juta dan fakta baru yang terungkap dalam persidangan yang berlangsung pada 22 April kemarin dari sopir Midi Iswanto anggota DPRD Lampung, Syaifudin yang secara terang mengatakan bahwa dirinya mengantar uang senilai Rp 1 miliar untuk seorang yang disebut Kanjeng ratu.

Sempat liar berfikir, Saya kira Kanjeng Ratu yang dimaksud ada kaitannya dengan Kanjeng Ratu Kidul dalam cerita masyarakat di pulau Jawa dan Bali itu, Ternyata tidak. Belakangan diketahui, Kanjeng Ratu dimaksud merujuk pada Chusnunia Chalim Ketua DPW PKB Lampung.

Sidang lanjutan kasus yang menimpa Mustafa kemarin lagi-lagi membuat saya tidak bisa Move on dari peristiwa pemblokiran terhadap akun Instagram pribadi milik saya tahun 2019 lalu yang dilakukan oleh akun pribadi milik Wakil Gubernur Lampung itu.

Masih terekam jelas dalam benak saya, Akun pribadi milik saya diblokir setelah saya menyampaikan kritik disalah satu postingan Instagram miliknya. Kritik sengaja disampaikan melalui kolom komentar pada postingan dengan harapan bisa dibaca langsung olehnya.

Kritik sebagai wujud hidupnya demokrasi ditanah Lampung, Saat itu saya bahas mengenai Ultimatum KPK pada November 2019 lalu yang akhirnya Nunik memenuhi Panggilan KPK (Keghabaian Mungkin), Karena ia tidak mengindahkan panggilan lembaga anti rusuah itu yang sempat memanggil dirinya sebagai saksi dugaan korupsi proyek di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Menyandang status sebagai saksi, Bubbai Makko tanding ini memiliki kewajiban hukum dan diharapkan bisa memberikan keterangan secara benar. Saat itu juga saya dkk coba kritisi prilaku orang nomor 2 di Lampung ini yang dianggap tidak patut. Mungkin dia termasuk salah satu pejabat yang elergi dengan kritik, Makanya akun Instagram pribadi saya atasnama Rosim Nyerupa di Blokir olehnya sampai hari ini.

Peristiwa itu cukup membuat saya lelah berfikir. Namun saya menyadari dengan sangat walau sedikit menyesal karena tidak bisa lagi mengikuti perkembangan terkini aktivitas hariannya di Instagram sebab diantara ratusan followers yang ada, Saya termasuk salah satu followers yang cukup setia mengikutinya di Instagram.

Cuitan Mustafa dan pengakuan beberapa orang saksi yang ada, Keterlibatan Wakil Gubernur Lampung itu dalam pusaran kasus korupsi Mustafa telah membuat catatan hitam pada dinding kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan Arinal-Nunik. Meskipun jalan persidangan masih berlangsung panjang dan keterlibatan Nunik dalam kasus tersebut masih didalami tapi bisa saja mempengaruhi Trust masyarakat menurun termasuk trust terhadap Gubernur Lampung Arinal Djunaidi.

Sebagai masyarakat, Saya yakin Kanjeng Arinal sebagai Gubernur Lampung juga merasa was-was terhadap cuitan beberapa saksi bahkan Mustafa sendiri. Was-was bukan karena apa, Jika ending akhirnya Nunik terbukti bersalah dan ditetapkan jadi tersangka akan berdampak terhadap citra baik dirinya sebagai Gubernur Lampung. Sebab, Nunik merupakan tandem Politik yang berpasangan dengannya pada Pilkada 2018 lalu. Pasangan Arinal Nunik berhasil memenangkan Pilkada saat itu dengan perjuangan yang cukup melelahkan apalagi beberapa gerakan pasca Pilkada berlangsung menggugat pasangan tersebut karena diduga telah melakukan kecurangan dan keterlibatan SGC dalam kontestasi Pilgub Lampung dengan sokongan amunisi yang tidak sedikit untuk kandidat tersebut akan tetapi fakta hukum bicara bahwa pasangan Arinal-Nunik dinyatakan tidak bersalah.

Tidak sedikit teman-teman saya berfikir mengatakan, Jika Nunik ditetapkan jadi tersangka, Maka Arinal berpotensi akan diseret-seret juga, Bagi saya itu fikiran liar saja. Namun, Saya berfikir lain dari mereka, Sebab dugaan keterlibatan Nunik dalam pusaran kasus Mustafa suatu perihal yang berbeda. Selain kuat dugaan menerima aliran dana yang diduga hasil gratifikasi proyek dari Mustafa, Nunik juga diduga menghalang-halangi proses penyidikan kesaksian seorang saksi dan sebagai pihak yang disebut-sebut berperan terkait penerimaan uang yang semula dari angka 30 M kemudian berubah menjadi 22 M dan berakhir diangka 18 M sebagai mahar politik agar PKB mendukung Mustafa pada Pilgub Lampung. Namun gagal karena Nunik juga ikut serta dalam kontestasi Pilkada berpasangan dengan Arinal Djunaidi, Akhirnya mahar 18 M yang telah diserahkan Mustafa dikembalikan sebanyak Rp. 14 M lagi ke Mustafa. Sedangkan sisanya sebanyak Rp. 4 M itulah yang ditanya Mustafa dalam persidangan ke Nunik, Mengapa yang tersebut tidak dikembalikannya ke KPK.

Sebagai Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi wajib kita jaga citranya. Ia merupakan simbolnya masyarakat Lampung yang telah menunjukkan kinerja yang baik bagi kemajuan Provinsi Lampung, Jangan sampai konsentrasinya terganggu karena masalah-masalah bawahannya, Sebagai wujud kepedulian tentunya sikap kritis masyarakat adalah salah satu cara terbaik dalam upaya membantu Gubernur mengontrol bawahannya, termasuk mengontrol Wakil Gubernur Lampung. Kita tidak ingin oknum bermasalah berada di lingkaran Gubernur Lampung sehingga bisa merugikan kepemimpinan dalam menjalankan tugas.

Dalam momentum hari Kartini ini, Quote populer habis gelap terbitlah terang nampak cocok kita kursorkan ke Nunik sebagai Kartini-nya Lampung dengan sebutan Kanjeng Ratu.

Kanjeng Ratu dalam strata masyarakat Lampung terbilang tinggi. Keteladanan harus senantiasa dipakai dalam kehidupan bermasyarakat, Karena menjadi panutan segenap keluarga kerabat bahkan masyarakatnya sendiri apalagi seorang pejabat publik.

Berbeda pada masyarakat di Pulau Jawa dan Bali, Kanjeng Ratu melekat pada sosok yang bernama Kanjeng Ratu Kidul. Konon menurut cerita bahwa sosok Kanjeng Ratu Kidul adalah roh suci yang mempunyai sifat mulia dan baik hati, dia berasal dari tingkat langit yang tinggi, pernah turun di berbagai tempat di dunia dengan jati diri tokoh-tokoh suci setempat pada zaman yang berbeda-beda pula. Pada umumnya dia menampakkan diri hanya untuk memberi isyarat / peringatan akan datangnya suatu kejadian penting.

Merujuk dari kedua penggambaran terhadap sifat sosok Kanjeng Ratu di Lampung, Pulau Jawa dan Bali diatas, Semoga Kanjeng Ratu yang disebut dalam sidang lanjutan kasus Mustafa sama sifatnya meski objek dan alur ceritanya berbeda.

Jika kesaksian yang disampaikan beberapa saksi terkait Nunik dalam sidang kasus Mustafa tidak benar menurut Nunik, Bisa saja Nunik mengambil langkah hukum dengan melaporkan mereka kepada pihak berwajib karena selain menyampaikan cerita bohong juga merugikan citra baiknya. Tapi kita lihat Nunik nampak santai saja, Mengapa Nunik tidak melaporkan mereka ke pihak berwajib ? Diamnya Wakil Gubernur itu seolah-olah mengamini apa yang dibeberkan para saksi.

Sebagai masyarakat Lampung, Kita berharap lembaga negara itu bisa memegang teguh independensi dan tidak pandang bulu dalam memberantas korupsi ditanah air termasuk debkolektor partai politik yang bertugas menarik mahar politik disetiap momentum Pilkada seperti yang terjadi dalam Kasus Mustafa yang diduga Nunik terlibat didalamnya. Mampukah KPK dibawah kepemimpinan Irjen Pol. Firli Bahuri menguak dugaan keterlibatan Nunik dalam pusaran kasus Mustafa ?, Dengan segala kerendahan hati, Saya ucapkan pada KPK, Selamat menghadapi Kanjeng Ratu Nunik dengan segala kekuatannya.

Salam,

Rosim Nyerupa, S.IP
Aktivis Muda Lampung

 2,823 total views,  1 views today

Continue Reading

Opini & Sastra

Milenial Harus Melek Gender

Published

on

By

Keterangan Foto : Ranti Antika

International Women’s Day 2021

Hanuang.com – Lebih dari satu abad, tepatnya setiap tanggal 8 Maret merupakan momentum untuk memperingati Hari Perempuan Internasional yang pada tahun 2021 ini mengusung tema kampanye “Choose to Challenge”.

Tema tersebut dilansir dari laman International Women’s Day berarti bahwa kita harus berani untuk memilih, untuk menantang dan untuk menyerukan ketidaksetaraan yang kita temui dan alami.

Gender dapat diartikan sebagai suatu pandangan atau keyakinan yang dibentuk oleh masyarakat tentang bagaimana seharusnya seseorang perempuan atau laki-laki untuk berpikir dan bertingkah laku.

Gender juga dapat didefinisikan sebagai suatu pembedaan baik dalam peran, sifat, sikap, atribut hingga perilaku yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.

Secara umum wacana-wacana mengenai gender ini sudah banyak dibicarakan bahkan dibahas seperti dalam seminar-seminar, workshop atau wadah-wadah diskusi lainnya. Namun realita yang terjadi saat ini masih sangat memprihatinkan.

Hal ini dapat kita lihat dari data-data yang dapat dengan mudah kita akses, misalnya data terbaru yang direlease oleh laman Komnas Perempuan yaitu Catatan Tahunan (CATAHU) pada tanggal 5 Maret 2021 lalu bahwa kekerasan seksual, kekerasan siber, perkawinan anak hingga keterbatasan penanganan di tengah Pandemi Covid-19 ini mengalami lonjakan.

Dengan melihat realita yang ada menandakan bahwa paradigma mengenai gender ini masih belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Selama ini masih banyak dikalangan masyarakat yang beranggapan bahwa perempuan berada pada lapisan bawah (low-layer), tertindas, kelompok kelas kedua (subordinat) dan tidak berdaya yang hal tersebut dibuktikan dengan sejumlah kasus seperti TKW, PRT, buruh perempuan dan lain sebagainya.

Tidak hanya sebatas itu, mitos-mitos tentang hidup perempuan hanya di seputar sumur, dapur dan kasur atau bahwa tugas perempuan hanyalah pada seputar masak, macak dan manak, tampak telah sangat melekat dalam kehidupan dan budaya di masyarakat.

Minimnya pemahaman masyarakat mengenai kesetaraan gender ini menjadi salah satu faktor penyebab dari tingginya kekerasan fisik, kekerasan fsikis, kekerasan seksual, kekerasan siber atau sejumlah pelecehan lainnya yang dialami oleh kaum perempuan.

Namun, penting untuk dipahami bahwa perempuan Indonesia sejak zaman perjuangan kemerdekaan hingga saat ini telah berhasil membuktikan kepada publik bahwa keberadaan kaum perempuan layak untuk diperhitungkan baik dari segi kecerdasan hingga kepiawaiannya.

Sehingga sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa masyarakat sangat membutuhkan peran perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam bidang ekonomi, pendidikan, sosial, politik, hukum, dan masih banyak aspek-aspek kehidupan lainnya.

Permasalahan tersebut tentu menjadi PR bagi kita semua khususnya para generasi milenial yang dinilai sebagai modal utama dalam fenomena bonus demografi.

Generasi milenial sudah sepatutnya untuk membekali diri masing-masing akan pengetahuan mengenai kesetaraan gender yang bisa didapat dari berbagai program seperti sekolah gender, seminar-seminar, Forum Group Discussion (FGD) dan sejumlah program lainnya yang dapat menambah pengetahuan mengenai kesetaraan gender. Untuk kemudian memberikan edukasi terhadap masyarakat bahwa perempuan dan laki-laki sejatinya memiliki status yang setara, dan dapat berkolaborasi baik dalam kehidupan kelompok yang kecil maupun besar.

Kaum perempuan dan laki-laki adalah pasangan yang tiada bandingnya dalam saling melengkapi satu sama lain. Oleh karenanya, penting untuk kita semua pahami bahwa tanpa eksistensi dari salah satunya, maka eksistensi lainnya tidaklah terbayangkan.

Jadi, mengapa harus merusak keberadaan yang lainnya?.

Dan sebagai kaum perempuan sudah sepatutnya kita memelihara keberanian untuk bersuara dan menentang ketika mendapatkan perlakuan yang kurang baik.

Speak Up! Kita sama-sama memiliki hak dan kita sama-sama berharga. Yakin Usaha Sampai.

Penulis : Ranti Antika (Kabid PP HMI Komsospol Universitas Lampung)

Penerbit : Arya

 678 total views,  1 views today

Continue Reading

Lampung Selatan

Ini 14 Poin Yang Menyebabkan Festival Kalianda 2019 Kurang Meriah

Published

on

By

Hanuang.com – berikut beberapa fakta Festival Kalianda 2019 menurut penilaian dari Redaksi Hanuang yang dianggap sangat jauh berbeda dan kurang meriah dengan tahun sebelumnya, Senin, (15/07/19).

1. Kurangnya Sosialisasi

Banyak masyarakat luas dari kalangan menengah kebawah yang tidak mengetahui gaung dari rangkaian acara Festival Kalianda 2019. Karena diduga kurangnya sosialisasi dari Dinas terkait menyebabkan gaung Festival Kalianda tidak menggema hingga pelosok Lamsel.

2. Kurangnya Publikasi

Rekanan atau partner dari media yang tidak falid dan kurangnya publikasi dari media online, cetak, maupun elektronik yang menyebabkan gaung dan rangkaian Festival Kalianda 2019 tidak menggema di wilayah Lamsel. Bahkan banyak media yang mempertanyakan anggaran MOU yang terkesan tertutup dan berbeda nilai satu sama lainnya. Selain itu rangkaian atau Rundown acara hanya berada dikalangan internal saja, sehingga banyak media yang tidak mengetahuinya.

3. Perwakilan Lomba Lagu Daerah Diduga Tak Jelas

Perwakilan lagu daerah banyak yang tidak jelas, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lamsel menuliskan pemenang merupakan perwakilan SMA atau SMK ternama di Lamsel, akan tetapi, faktanya ada peserta dan juara sendiri bingung, karena merasa tidak pernah mewakili sekolah yang ditunjuk, bahkan tidak ada kontribusi karena peserta ada yang mendaftarkan diri secara pribadi.

4. Touring Bike Yang Terkesan Memaksakan Rute

Rute atau jarak tempuh bagi peserta touring bike dianggap terlalu jauh sehingga banyak terlihat para peserta yang kelelahan. Seperti di Desa Kunjir, peserta ramai menaikkan sepedanya ke mobil dan melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan. Sebelumnya terkait rute tersebut sempat dibahas oleh peserta dalam rapat yang digelar dilingkup Pemkab Lamsel.

5. Sampah Yang Berserakan

Banyak masyarakat yang mengunjungi wisata kuliner dermaga Bom menilai usai acara Touring Bike meninggalkan sampah dimana-mana. Padahal setiap minggunya pihak Kecamatan Kalianda selalu bersih-bersih dan menghimbau agar tidak membuang sampah sembarangan dilokasi tersebut yang terkenal dengan Program GEBER (Gerakan Bersih-Bersih) namun panitia terkesan acuh.

6. Cuaca Yang Tak Menentu

Cuaca tak terduga merupakan salah satu penyebab tak meriahnya rangkaian Festival Kalianda 2019, terlihat dari acara Grand Final Pemilihan Muli Mekhanai, dimana ditengah acara hujan deras dicampur petir mengguyur yang membubarkan para penonton dalam ajang tersebut.

7. Banyaknya Seniman Lokal Atau Penggiat Wisata Tak Dilibatkan

Banyak penggiat seni atau seniman lokal yang merasa tidak dilibatkan dalam acara tersebut, padahal menurut mereka, pihaknya dapat memberikan sumbangsih saran untuk kemajuan pariwisata dan budaya dalam ajang Festival Kalianda 2019 tersebut.

8. Anggaran Yang Tidak Jelas

Anggaran dianggap tidak jelas karena banyak kawan-kawan media tidak mengetahuinya, jadi terkesan anggaran tersebut terlalu sedikit atau terlalu tertutup, diduga sebelumnya pihak Dinas terkait telah melakukan pemborosan anggaran akibat salahnya pencetakan Banner yang sudah tersebar di wilayah Lampung. Dimana banner yang dipasang merupakan gambar Bupati Lamsel Nanang Ermanto yang menggunakan Topi Adat (Kikat) bukan Khas Lamsel atau dari luar daerah. Padahal ajang Festival Kalianda 2019 merupakan kegiatan tahunan daripada Kabupaten Lamsel.

9. Kurangnya Koordinasi Dengan Pemuda

Pemuda merupakan salah satu ujung tombak pembangunan, baik dari segi pembangunan wisata dan budaya, dalam ajang Festival Kalianda 2019, banyak pemuda yang tidak terlibat, contohnya saja organisasi milik Pemerintah (Plat Merah_red) seperti Karang Taruna dan KNPI yang terkesan tidak dilibatkan sama sekali. Apalagi pihak panitia mau melibatkan Ormas ataupun LSM serta Pokdarwis yang ada di Lamsel jika OKP milik Pemerintah saja diabaikan.

10. Masyarakat Lokal Yang Terkesan Acuh

Masyarakat lokal yang terkesan acuh dan kurangnya kesadaran terhadap Festival Kalianda 2019 dimana masyarakat kurang peduli dan memandang kegiatan tersebut merupakan Ceremonial dari Pemerintah setempat saja. Selain itu kesibukan dan aktifitas masyarakat sehari-hari dalam bekerja dan berusaha menjadikan mereka abai akan kegiatan yang ada di wilayahnya.

11. Muncul Pelaku Ujaran Kebencian

Berbeda dengan tahun sebelumnya, Festival Kalianda 2019 kali ini memunculkan pelaku ujaran kebencian, dimana ujaran kebencian tersebut ditimbukan oleh Netizen dari Media Sosial (Facebook) terkait pemberitaan mengenai sampah yang berserakan usai acara Touring Bike, akibat perbuatannya, pelaku mendapatkan kecaman dari lembaga wartawan ataupun organisasi wartawan yang ada di Lamsel yakni Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lamsel, Jurnalis Siber Komuniti (JUSI) Lamsel, serta Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Lamsel. Pelaku sempat akan dilaporkan kepada pihak berwajib (Ranah Hukum) dengan dugaan Ujaran Kebencian, yang berakhir dengan pelaku meminta maaf kepada perwakilan organisasi wartawan di Lamsel.

12. Event Pawai Budaya Memakan Korban

Dalam acara pawai budaya yang digelar di lapangan Cipta Karya memakan korban, seorang bocah diduga mengalami patah kaki dalam berebut makanan otak-otak yang disediakan panitia, bahkan orang tua korban harus marah-marah dan mengamuk diatas panggung menggunakan pengeras suara, meminta kendaraan ambulan untuk membantu anaknya dengan mengantarkan ke RSUD setempat.

13. Tak Ada Perwakilan Duta Besar

Sungguh berbeda dengan tahun sebelumnya, dimana dalam Festival Kalianda 2019 tak lagi menampilkan perwakilan Duta Besar dari berbagai negara. Padahal sebelumnya, saat Festival Krakatau 2018, sebanyak 8 Dubes dari Perwakilan Negara Sahabat datang mengunjungi.

14. Hilangnya Lomba Fotografi & Video Blog

Lomba terkait gambar dan video yang menceritakan atau mengeksplorasi wisata dan adat budaya yang ada di Lampung Selatan kini sudah hilang dari rangkaian Festival Kalianda 2019. Sebelumnya lomba tersebut sempat digaungkan dalam Festival Krakatau 2018 dengan Tema The Real Of Krakatoa.

Berbagai Link Media Terkait Festival Kalianda 2019 yang dianggap kurang menarik dan menurun drastis dari tahun sebelumnya :

https://lampung.tribunnews.com/2019/07/08/warga-nilai-festival-kalianda-tidak-semarak

https://hanggumpost.com/2019/07/kurang-greget-masyarakat-sekitar-dermaga-bom-kalianda-tidak-tahu-ada-kegiatan-touring-bike.html

https://hanggumpost.com/2019/07/malam-final-muli-mekhanai-lamsel-2019-tata-panggung-terkesan-dadakan.html

https://hanggumpost.com/2019/07/banyak-bangku-kosong-acara-lomba-lagu-daerah-lampung-kurang-meriah.html

*KAPI Sebut Festival Kalianda 2019 Terkesan Tertutup* http://bidikkasus.id/detailpost/kapi-sebut-festival-kalianda-2019-terkesan-tertutup

http://searchernews.com/2019/07/09/kapi-festival-kalianda-tahun-2019-minim-sosialisasi-dan-promosi/

https://hanggumpost.com/2019/07/hujan-campur-petir-penonton-muli-mekhanai-bubar-jalan.htm

→ https://www.kaliandanews.com/2019/07/usai-touring-bike-festival-kalianda.html

https://hanuang.com/pwi-smsi-dan-jusi-kecam-netizen-yang-menghina-tugas-wartawan-di-lamsel/

→ https://www.kaliandanews.com/2019/07/ini-kritik-pedas-seniman-lokal-terkait.html

Selain itu, berikut daftar Kritisi yang berhasil dirangkum oleh www.hanuang.com saat menggelar tanya jawab mengenai kemeriahan Festival Kalianda 2019 :

Ketua Umum Ormas GML (Rizal Anwar)

“Intinya apapun kegiatan di Lampung selatan harapan saya coba diberi contoh buat kabupaten yang lain, Kitakan kota yang paling tua apalagi Lampung selatan serambi Sumatra jangan kita yang mencontoh mereka, oke Itu harapan masyarakat menuju Lampung selatan maju” ujarnya.

Anggota DPRD Terpilih Provinsi Lampung Asli Putra Daerah Lamsel (Nurul Ikhwan)

“Harus lebih inovatif dalam setiap pelaksanaan kegiatan bukan hanya sekedar seremonial saja tapi tidak memberikan dampak besar bagi pariwisata lamsel dan membangun brand yang kuat bagi kegiatan festival sehingga mendatangkan banyak pengunjung bukan hanya dari lamsel tapi juga dari luar lamsel serta dari luar lampung dan selalu menjaga kebersihan kegiatan sebagai upaya edukasi kepada masyarakat dan memberikan keamanan dan kenyamanan bagi pengunjung sehingga tidak terjadi kecelakaan yang akan menimbulkan dampak buruk, ajak seluruh komponen yang ada untuk membangun brand festival termasuk didalamnya mengundang konsultan pariwisata berskala internasional untuk memberikan dampak yang besar bagi sektor pariwisata di lamsel dan terakhir adalah evaluasi dinas pariwisata lamsel karena ujung tombak kemajuan pariwisata di lamsel ada di dinas pariwisata dan bertahun – tahun yg dilakukan hanya kegiatan itu-itu saja tapi tidak memberikan dampak yang besar yang seharusnya sektor pariwisata jadi ujung tombak PAD yg kemudian meningkatkan perekonomian masyarakat yg ada di tempat-tempat wisata” ungkapnya.

Musisi Lokal (Iwan J. Sastra)

salah satu musisi lokal dan sekaligus seniman Lampung selatan ini menjelaskan pagelaran Lomba Solo Song yang sudah digelar pada Sabtu (6/7) kemarin, juga kurang maksimal dan monoton.

“Sejauh ini kita perhatikan lomba menyanyi tidak ada inovasi. Harusnya diberi kesempatan untuk para seniman lokal untuk berkontribusi. Terutama para seniman Muda yang memiliki hobi bermusik, dan juga libatkan yang memang sudah pernah bermitra dengan dinas pariwisata,” bebernya.

“Lampung Selatan juga punya Dekranasda. Hal itu bisa diberdayakan dengan diadakannya pameran berbagai kerajinan lokal. Mungkin pengunjung akan ramai, inikan festival kalianda jadi harus menghidupkan hal yang ada di Kalianda. Kita juga punya beberapa rumah adat dan itu bisa menjadi rujukan untuk para peserta muli mekhanai lebih mengenal lagi budaya dan peninggalan serta sejarah lampung selatan,” Tandasnya.

Himals selaku Perwakilan Mahasiswa (Ujang Abdul Aziz)

“Pada dasarnya adanya festifal Kalianda bertujuan untuk melestarian budaya dengan revitalisasi budaya (penguatan) yang dibalut seremonial acara. Namun hari ini yang perlu menjadi catatan pemerintah daerah harusnya melibatkan mahasiswa sebagai akademisi yang bisa memberikan sumbangsih pemikiran, konsep, dan inovasi sebagai langkah kongkrit  dalam membangun dan meningkatkan kualitas pariwisata kita di lampung selatan. Mahasiswa banyak berperan aktif namun justru pemerintah daerah lebih suka memberdayaakan masyarakan luar daerah ketimbang masyarakat lokal. Salah satu contoh menumpang di acara Mahasiswa Unila. Karna ke aslian itu penting karna pada akhirnya masyarakat lokal lah yang akan mengelola dan menjaganya” tandasnya.

Perwakilan Pemuda/Karang Taruna Lamsel (Erdiansyah)

“Pada dasarnya Festival Kalianda lancar dan cukup sukses menghibur, hanya saja perlu perbaikan disana-sini terutama pelibatan masyarakat dan promosi wisatawan domestik/mancanegara disetiap event yang harus digencarkan, kalau perlu tv Nasional untuk promosi sperti ditempat lain tour de singkarak, wakatobi, jember fest dan lainnya. Dengan kemasan dan inovasi kgiatan yang lebih menarik dan unik, selain itu dihadirkan artis yang lebih terkenal, secara teknis tiap event dtingkatkan kualitas sound/tatacahaya yang lebih maksimal, keamanannya dan tim kesehatan event yang lebih sigap, secara kseluruhan sukses.” jelasnya.

Perwakilan LSM KAPI (Dedi Manda)

Kurang maksimalnya kegiatan yang diselenggarakan, sebab banyak warga masyarakat yang tidak tahu terkait kegiatan tersebut. Bahkan kegiatannya pun terkesan dipaksakan, padahal kita sama-sama mengetahui kalau festival kalianda adalah agenda tahunan tingkat kabupaten yang diselenggarakan terpusat di kota kabupaten. Seharusnya ini menadi hiburan sekaligus ajang promosi baik dari bidang ekonomi sosial dan budaya. Tapi kegiatan yang diselenggarakan terkesan dipaksakan sebab tidak terdapat capaian yang kongkrit (kemajuan dari tahun sebelumnya) Kegiatan yang semestinya menjadi hajat semua lapisan elemen masyarakat justru berbalik, seperti pesta para elit birokrat. Mungkin kurangnya sosialisasi, atau konsep yang terkesan dipaksakan dan lainnya. Atau mungkin karena minim anggaran. Sebab tidak banyak yang tahu terkait besaran anggaran, Mungkin acara puncak akan lebih baik jika dibuat agenda do’a bersama agar lampung selatan lebih baik dan bersih dari koruptor” tutupnya. (Arya)

 6,437 total views,  5 views today

Continue Reading

Trending Topic